Sabtu, 17 Maret 2012

MTQ Ke-44 Dapatkan Bantuan Mendadak

 KOTABARU – Tadi malam (04/02) panita pelaksana MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) ke-44 tingkat kecamatan Pulau Laut Utara dikejutkan dengan adanya bantuan mendadak dari orang nomor satu di Kotabaru. “Memang dana kita masih kurang, bersukur Bupati Kotabaru memberikan bantuan kepada kami sebesar Rp6 juta,” ujar Pembakal Desa Dirgahayu, Bahdianoor.

Dalam MTQ itu sendiri, 04-08 Februari, katagori lomba adalah MTQ Anak-anak, MTQ Remaja dan MTQ Dewasa. Dalam sambutannya Bupati H Irhami Ridjani menekankan pentingnya pelaksanaan MTQ dalam tiap kecamatan setiap tahunnya. Bukan saja sebagai ajang silaturahmi tapi juga sebagai sarana dakwah memperkenalkan Alquran kepada genarasi muda di Kotabaru.

Sedangkan Camat Pulau Laut Utara, Drs Johanoor, sendiri dalam sambutannya juga menekankan pentingnya arti MTQ kali ini bagi perkembangan akhlak generasi muda Kotabaru. Harapnya, dengan adanya MTQ kali ini bisa lebih meningkatkan pemahaman remaja akan agama Islam.

Malam itu para pengunjung tampak tumpah ruah di sekeliling arena MTQ, karena bukan saja pelaksanaan pembukaanya yang bertepatan dengan malam Minggu, tapi juga karena tempat pelaksanaan sendiri yang berada di pinggir jalan raya sehingga para pengendara banyak yang berhenti sekedar menyaksikkan acara pembukaan MTQ ke-44 tingkat Kecamatan Pulau Laut Utara.

Salah seorang pengunjung, Sarliah, warga Desa Rampa mengatakan kepada Radar Banjarmasin kalau pemerintah hendaknay terus mengadakan kegiatan-kegiatan siar Islam di Kabupaten Kotabaru baik yang sifatnya perlombaan atau hal lainnya. Karena, katanya, diakui atau tidak dari hari ke hari para remaja semakin dekat dengan budaya Barat, baik itu sebabnya pergaulan di kalangan mereka sendiri atau dari berbagai media, seperti internet dan lainnya.

“Coba, pian ingat wakut dulu, anak-anak kalu sore banyak yang pergi mengaji ke salah satu guru mengaji di desa. Tapi sekarang, mereka kebanyakan kerjaanya hanya micik hape, katanya buka facebook atau apalah,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin di sela-sela acara.

Kotabaru Kembangkan Batik Lokal

Mampukah Kotabaru  Menjadi Penghasil Batik?

KOTABARU – Mampukah Kotabaru menjadi salah satu daerah penghasil batik seperti Cirebon atau Banjarmasin dengan batik sasirangannya? Pertanyaan itu dijawab oleh Bupati Kotabaru H Irhami Ridjlani. “Kalau kita lihat, warna dan corak batik hasil para anggota PKK selama pelatihan 10 hari tidak kalah dengan batik-batik dari daerah lain. Tinggal tantangannya ada pada kita, dengan bantuan permodalan, kita akan berusaha menjadikan Kotabaru sebagai salah satu penghasil batik,” ujarnya pada acara penutupan Pelatihan Batik di gedung Paris Barantai, Sabtu (04/02).

Memang dari pantauan wartawan dan para pengunjung, warna dan motif dari batik Kotabaru tidak kalah menawan dibandingkan dengan batik dari daerah lainnya di Indonesia. “Hasil yang memuaskan seperti ini memang sudah saya duga, karena dengan keindahan alam Kotabaru saya percaya kalau karya seni masyarakat disini bisa dibanggakan. Saya sebagai perlatih, mengakui kalau corak dan motif dari batik-batik yang dipajang itu adalah ilham dari melihat alam Kotabaru,” ujar Suryono SE, pelatih batik.

Dia memang menyarankan kepada pemerintah Kotabaru agar terus membantu para anggota PKK yang sudah belajar membatik ini dalam bidang permodalan, sehingga kelak mereka bisa mengembangkan usaha batik sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi penting di Kotabaru.

Bupati sendiri mengiyakan itu, dimana juga nanti para SKPD-SKPD di Kotabaru diusahakan memakai rancangan batik hasil kerajinan mereka. Bukan saja sebagai langkah awal pemasaran batik Kotabaru, tapi juga sebagai langkah untuk mempromosikan batik Kotabaru kepada masyarakat. Dan sebagai langkah nyata dari keseriusannya, rencana gedung Irham Center akan ditempati para peserta kemudian sebagai wadah berkreasi dalam pembuatan batik.

Sebenarnya Irhami sendiri memang sangat berkeinginan dalam kepemerintahannya ini batik Kotabaru bisa berkembang menjadi salah satu mata pencaharian ibu-ibu rumah tangga di Kotabaru. Karena, tambahnya, sudah sering dahulu diadakan pelatihan pembuatan batik tapi sayang tidak ada tindak lanjut dari pemerintah daerah.

Kita, tuturnya kepada wartawan, tidak akan miskin kalau mampu mengenali potensi-potensi yang ada. Tinggal pemerintah dan masyarakat apakah mau menggali potensi itu dan mengembankannya menjadi sebuah senjata perekonomian. Dan batik adalah salah satu jawaban dari itu.

Manakala wacana ini dilempar ke masyarakat, sebagian dari mereka antusias. Namun mereka juga mengharapkan agar program pemerintah ini benar-benar pro kepada rakyat kecil. “Kalau memang Kotabaru akan mengembangkan batik lokal, kenapa tidak, malahan kita sangat mendukungnya. Hanya jangan sampai program tersebut cuma untuk segilintir orang,” ujar  H Badaruddin, tokoh masyarakat di Desa Hilir Muara.

Memang tutur Suryono, batik lokal Kotabaru mempunyai peluang bersaing di pasar Nasional. Itu dikarenakan batik Kotabaru yang dibuat para anggota PKK menggunakan peralatan tradisional seperti kuas dan lilin (semacam cat pewarna), sehingga tingkat kualitas warna lebih dari batik buatan pabrik, dan juga tahan lama. (mr-119)

Sabtu, 04 Februari 2012

Perahu Katir Nusantara 2, Effendy Soleman Taklukkan Nusantara, Mampir di Kotabaru

Pendi, Pelaut Pemberani Taklukan Laut dengan Perahu Kecil
Niat ke Merauke, Singgah Bakar Semangat Pemuda Kotabaru

Tanah rumahku
Air halamanku
Sekali berlayar
Pantang kita bersurut

Yan, Kotabaru

Kata-kata itu diucapkan Effendy Soleman, 61, setibanya di siring laut Kotabaru, tepuk tangan dan decak kagum pun iringi setiap kata yang dilontarkannya. Sosok pria berdarah Bugis-Ternate ini memang telah dinanti-nantikan oleh warga Kotabaru, demi melihat dari dekat sosok yang 30 tahun lalu mulai menaklukkan daerah-daerah pesisir Nusantara mulai Sabang sampai Merauke lewat jalur laut, hanya dengan perahu katir (perahu berukuran kecil dan menggunakan cadik bambu) sepanjang 7 meter-an.

 
Sebelumnya, kedatangannya dengan menggunakan perahu katir bermesin dari arah laut sudah menjadi pusat perhatian warga Kotabaru. Dengan perahu berwarna putih, senada laut yang membiru, Effendy dan 3 ABK (Anak Buah Kapal), Haberta, Sugi dan Yamani, disambut pelukan hangat dari Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Kotabaru Letkol Laut (P) Yudi Subiantoro. Tabuhan musik daerah dan tarian Kotabaru dari beberapa pelajar iringi prosesi penyambutan itu, kembang melati dilingkarkan ke leher Effendy yang legam terbakar matahari.

 
Setelah itu Pendi, begitu ia biasa dipanggil, diarahkan ke gedung Operation Room Pemkab Kotabaru. Disana dia sudah ditunggu warga untuk bercerita tentang pengalamannya berkeliling nusantara hanya dengan menggunakan sebuah biduk kecil bermesin yang diberi nama Katir Nusantara 2.

 
Kita ini merupakan putra dari negara yang merupakan kumpulan kepulauan. Laut kita jauh lebih banyak dibandingkan dengan daratan, ujarnya membakar semangat. Pendi mengatakan seringkali orang luar lebih mencintai laut Indonesia dibandingkan orang Indonesia sendiri.

Pendi, dengan terus bersemangat mengatakan pentingnya mencintai warisan bahari bagi generasi muda, utamanya yang berada dipesisir. Karena, tegasnya nenek moyang kita adalah orang-orang yang sudah terkenal tangguh dalam menaklukkan lautan. “Buatlah diri kita bermanfaat, dan usahakan dalam berkarya kita bisa melebihi orang lain. Kalau kalian sudah sering berlayar, maka kalian akan tahu kapan ada badai dan perkiraan-perkiraan cuaca lainnya hanya dengan melihat alam, itulah cara nenek moyang kita,” ujarnya.

 
Di kalangan teman-temannya, pria ini juga dikenal dengan sebutan Hantu Laut, sudah beberapa penghargaan didapatnya, seperti Pelayar Lepas Pantai Tunggal Pertama Indonesia dari PORLASI (1988), Pemuda Pelopor Bidang Bahari Tingkat Nasional (1988), dan seabrek panghargaan lainnya. Kehadirannya di Kotabaru adalah dalam perjalannya menaklukkan Sabang sampai Merauke dalam ekspedisi bernama Ekspedisi Layar Sabang-Merauke.

 
Start keberangkatan di mulai di Jakarta pada tanggal 29 Mei 2011. Rute sendiri, kata Pendi terdiri dari dua, Etape 1 Jakarta-Sabang-Muntok dan Etape 2 Muntok-Merauke. “Pada tanggal 11 Januari kemarin kami berangkat Dari Muntok ke Banjarmasin, dan dari Banjarmasin pada tanggal 30 Januari saya berangkat ke Kotabaru,” tambahnya menjelaskan rute-rutenya.

 
Apakah tidak takut berlayar dari Banjarmasin ke Kotabaru dengan keadaan gelombang yang tidak bersahabat seperti sekarang ini? Pendi hanya tertawa. “Melaut itu sudah mendarah daging, lagian kalau di laut, tidak selamanya cuaca buruk, pasti ada celah- celah yang bisa dilalui oleh perahu,” sebutnya setengah berfilosofi.

 
Puas berbagi dengan para warga dan pelajar di Kotabaru, para pria pemberani ini akhirnya diantar oleh Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Yudi Subiantoro ke sebuah penginapan di Kotabaru untuk beristirahat. Rencananya, jika mesin sudah baik, Pendi dan kawan-kawan akan terus berlayar ke Merauke. “Sekali berlayar pantang kita bersurut,” ujarnya. baca juga disini

Cerita Jelang Azan di Kotabaru, Pelajar Ngastol

Orang Tua Diminta Waspada, Ngastol Rusak Remaja Kotabaru

Mau ke Mesjid Saja Masih Sempat Ngastol


Masih tentang kisah anak di Kotabaru. Jika kemarin wartawan koran ini menemukan Rifai “spider kid” yang rajin membantu orang tua. Maka kali ini wartawan Radar Banjarmasin menemukan sisi lain ulah anak bumi saijaan. Ngastol.
Yan, Kotabaru
Waktu sudah hampir tengah hari, Jumat (3/2) kemarin. Saatnya bagi para laki-laki, berwangi-wangi untuk berangkat menunaikan ibadah salat Jumat. Wartawan koran ini yang sedang dalam perjalanan menuju pulang, mampir di sebuah gazebo yang terletak di atas ketinggian bukit belakang Kelentang.

Tapi apa yang ditemukan wartawan koran ini di tempat itu sungguh mengejutkan. Ketika lantunan ayat suci Alquran terdengar dari menara masjid-masjid, sekelompok remaja berbusana muslim, lengkap dengan peci, malah tampak asik menghirup sesuatu dari bungkus plastik. Mereka juga tampak kaget, bahkan ada yang lantas membuang plastik transparan yang mereka tempelkan di mulut.

Dari aroma yang tercium, bisa ditebak, plastik tersebut berisi lem merek tertentu. Ternyata anak-anak ini lagi ngastol. Demikian anak-anak tersebut menyebut aktivitas menghirup uap lem, merujuk pada jenis lem yang gunakan. Meskipun sebenarnya lem yang digunakan adalah merek lain.

Setelah mengetahui yang menghampiri mereka bukan anggota polisi, anak-anak ini pun tampak cengar-cengir ketika ditanya wartawan soal aktivitasnya itu.

Salah satu anak, sebut saja Amat (bukan nama sebenarnya) mengatakan, kalau menghisap lem itu membuat perasaan indah melayang-layang, sehingga semua beban terlupakan.

Asik sekali, serasa terbang ulun mulai dari Desa Baharu sampai Desa Rampa. Pernahlah pian merasakan?” ujarnya yang mendapat sambutan tawa riuh dari teman-temannya yang berseragam pramuka setingkat SMP.

Dari gaya bicaranya, tampaknya anak ini memang sedang fly, mabuk lem. Kepalanya selalu bergoyang-goyang, sementara matanya sayu menatap ke kejauhan.

Dia juga bertutur, ngastol, demikian istilahnya, biasa dilakukan sekali dalam seminggu. Karena kalau setiap hari, mereka mengaku tidak punya uang.

Selepas berbincang-bincang sejenak dan mengingatkan mereka akan bahaya ngastol, wartawan koran ini pun melanjutkan perjalanan. Tapi belum habis rasa terkejut mendapati pelajar ngastol, wartawan koran ini kembali dikagetkan dengan rombongan remaja yang tengah adu cepat dengan kendaraan roda dua di jalan raya, tanpa helm pula.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Kotabaru, Iptu Tukiman SH yang dimintai keterangan oleh Radar Banjarmasin, mengingatkan kepada para orang tua dan guru di Kotabaru, agar lebih waspada lagi dalam mengawasi anak-anaknya. “Biasanya mereka ngastol itu adalah karena faktor ikut-ikutan, jadi lingkungan pergaulan anak harus terus dipantau,” ujarnya. (yn/bin) baca juga disini

Rapat Hearing Kotabaru, DPRD, Polres Kotabaru, Kodim dan Pertamina Terkait Masalah Solar

suasana rapat
Para Sopir Hilang Saat Digelar Hearing di DPRD Kotabaru

KOTABARU – Ketua Komisi 1 DPRD Kotabaru M Faruq heran dengan rapat hearing yang digelar dewan bersama Pertamina dan Polres Kotabaru, Jumat (03/02). Para sopir yang sebelumnya sempat demo, malah tak muncul.


“Rapat ini kan, diadakan atas permintaan dari para sopir truk yang berdemo kemarin. Tapi kok, para sopir itu tidak hadir ya, mereka yang tiap pagi juga katanya ramai antre di SPBU, pagi tadi ini sepi,” ujarnya bertanya-tanya seusai rapat. 

 
Pertanyaan itu dia ajukan kepada Kasat Intel Polres AKP Hery dan Pasi Intel Kodim Kapten Zulkifli. Keduanya sama menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Faruq. Karena, kata Faruq, memang patut dipertanyakan. 

 
Pasalnya, pada hari Senin (30/01) para sopir dengan bersemangat demo di gedung DPRD, dan meminta para wakil rakyat membereskan masalah mereka, tapi ketika pihak-pihak terkait sudah dihadirkan, mereka malah tidak terlihat, dan jejaknya pun seolah lenyap. 

 
Dan ketika Radar Banjarmasin mencoba menghubungi salah satu telepon genggam dari sopir yang beberapa hari lalu berdemo di gedung DPRD, maka dari nada ponselnya terdengar jawaban kalau pengguna sedang berada pada area yang tidak terjangkau jaringan. 

 
Memang, beberapa hari yang lewat dari bisik-bisik wartawan koran ini dengan pihak sopir di sebuah warung kopi, diduga kalau yang melangsir selama ini di SPBU Stagen adalah para oknum aparat.
Katanya, sejak pagi mereka sudah mempersiapkan mobil yang bisa membawa beratus-ratus solar, dan diperkirakan menjualnya ke perusahaan tambang. 

 
Dan ketika hal tersebut dikonfirmasikan ke Polres, Paur Humas Aiptu Sahropi mengatakan kepada Radar Banjarmasin, Kamis (02/01), kalau Wakapolres Kotabaru Kompol Kaswandi Irwan SIK, menugaskan Sat Intel, Sat Reskrim dan Sat Paminal (Pengamanan Internal) untuk berjaga-jaga dan mengawasi setiap SPBU. Apabila ada oknum yang kedapatan melangsir maka akan langsung ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. 

 
Ketua DPRD Kotabaru, Alpidri Supian Noor MAP juga mengimbau kepada masyarakat agar jangan takut, kalau memang ada pelangsir yang kedapatan beroperasi di SPBU, laporkan dan catat plat mobilnya. 

 
Di sisi lain, pihaknya juga mengherankan, kenapa pasokan solar di SPBU sebanyak 800.000 liter bisa tidak mencukupi, sehingga banyak para sopir kemudian mengeluh tidak kebagian solar. 

 
“Kita juga harus mengawasi Pertamina, jangan sampai pasokan solar memang tidak cukup,” ujar Ketua Komisi 2 H Syaiful Bahri dalam rapat yang berlangsung panas itu. 

 
Namun sayang, Pertamina sendiri tidak banyak berkomentar apa-apa terkait isu tersebut. Dan ketika para awak media mengejar mereka seusai rapat dari lantai 2 hingga ke tempat parkiran, pihak Pertamina selalu menghindar. 

 
Dalam rapat terbuka tersebut dihasilkan kata sepakat bahwa di SPBU setiap mobil pribadi hanya dibolehkan mengisi sebanyak 30 liter solar, mobil penumpang 70 liter, dan mobil truk sebanyak 60 liter per hari. 

 
Peraturan tersebut mulai diberlakukan sejak kemarin. “Selain itu, kita juga meminta kepada pihak dari Polres dan aparat lainnya, agar menertibkan SPBU-SPBU di Kotabaru, karena dari kabar yang kita dengar ada beberapa mobil yang membeli solar sampai 400 liter sehari, dan itu sangat tidak dibenarkan,” ujar Ketua DPRD Alpidri Supian Noor MAP. 

 
Dan dalam rapat itu juga pihak dari Polres, dalam hal ini Kasat Intel AKP Hery, berjanji akan menertibkan dan menugaskan anak buahnya berjaga-jaga serta mengawasi jalur distribusi solar, mulai dari hulu sampai ke hilir, apakah benar dalam sebulan solar yang masuk ke SPBU Kotabaru sebanyak 800.000 liter perbulannya. 

 
“Karena jangan sampai kita kecolongan. Selama ini kita selalu mendapat jawaban dari Pertamina Kotabaru kalau pasokan solar sudah cukup tapi belum tentu kan, itu benar, bisa saja sebenarnya pasokan solar itu tidak cukup, karena ada sesuatu apa,” ujar Ketua Komisi 2 H Syaiful Bahri dalam rapat yang berlangsung panas itu. (mr-119) baca juga disini

Jumat, 03 Februari 2012

Kisah Rifai, "Spider Kid" Asal Kotabaru di Musim Langsat

Kisah Rifai, "Spider Kid" Asal Kotabaru di Musim Duku

Bantu Orang Tua, Menikmati Pemandangan dari Ketinggian

Pa'i sedang asik petik langsat
Jika warga Jakarta pernah heboh dengan aksi-aksi Fitriyah (10) ”Spider Kid” asal Ciputat yang hobi memanjat tower listrik. Maka di Kotabaru, juga ”Spider Kid” yang seusia Fitri. Namanya Rifai. Tapi hobinya jauh lebih bermanfaat, seperti apa?
Yan, Kotabaru

Ketika teman-teman sebayanya sedang asik bermain di lapangan bola atau berenang di laut yang asin, Pa’i -demikian ia biasa disapa- Pelajar kelas 4 SD dengan postur mungilnya, Kamis (2/2) kemarin justru berada di atas pohon langsat (duku, Red) setinggi 7 meter-an. Tanpa pengaman dan alat bantu, ia memanjat pohon demi membantu orang tua.

 
Pa’i (10) adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara, putra pasangan Bowo dan Sarliah. Di musim langsat seperti sekarang ini, ia merelakan waktu bermainnya habis diatas pohon.
Seperti sore kemarin, dengan masih menggunakan celana sekolah, dia dengan berbekal sebuah keranjang yang diikat dengan tali, dengan lincah mengumpulkan buah langsat.

 
Pluk, pluk, pluk, suara langsat yang dia taruh ke dalam keranjang, terdengar dari bawah pohon. “Kalau sudah penuh tolong turunkan ke bawah keranjangnya,” ujar Suli seorang pembeli.
Pa’i tidak sendiri, dia ditemani Sarliah, ibunya. “Kalau sedang musim langsat, anak-anak tanpa disuruh pasti akan membantu. Selain dia, biasanya si kakak, Nurdin, yang setahun lebih tua juga membantu saya mengumpulkan hasil panen,” ujarnya.

 
Ketika ditanya, apakah tidak khawatir anaknya yang masih kecil itu memanjat pohon tinggi tanpa pengaman, dia menggelengkan kepalanya. “Anak-anaknya belum pernah terjatuh dari pohon, lagi pula kalau pohonnya tinggi yang memanjat bapaknya,” ujar Sarliah. Ayah Pa’i, Bowo sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.

 
Sedangkan Pa’i sendiri ketika ditanya, mengatakan kalau urusan panjat-memanjat itu adalah hal kecil, karena sudah terbiasa. Lagian juga, tambah anak Desa Sarang Tiung Kecamatan Pulau Laut Barat –sekitar 14 kilometer dari pusat kota kabupaten, diatas pohon pemandangannya indah sekali. “Disini semua keliatan om, ada pantai, ada bagang juga. Jadi ya, asik saja,” ujarnya tersenyum.

 
Selain itu dia sendiri mengaku merasa bangga bisa membantu orang tua. Katanya, hanya pada musim langsat seperti ini keluarganya bisa sedikit meresakan untung lumayan. Kalau hari-hari biasa, keadaan ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jadi, tambahnya, apa salahnya sebulan dalam setahun tidak bermain agar bisa memungut buah langsat sehingga tidak busuk di pohon.

 
Memang, tutur Sarliah, pemanenan langsat tidak bisa dilakukan sendiri, karena buahnya sangat cepat proses matangnya. Wanita paruh baya ini pada musim buah tahun ini, membeli 20 batang pohon langsat di perkebunan seorang warga setempat. Buah dari 20 pohon itu diborong seharga Rp10 juta. 


Setelah dipetik, ia menjual lagi buah tersebut, baik kepada pedagang, maupun menjual sendiri kepada pembeli. Seperti sore kemarin, beberapa orang yang kebetulan lewat, mampir dan membeli. ”Hitung-hitungan kasar, kalau semuanya habis, untungnya sekitar Rp5 juta,” ujarnya (yn/bin) baca juga disini

Cerita Susai Tenggelamnya Kapal Kanon San di Kotabaru

Lokasi tenggelamnya kapal
Ketika 800 Ton Semen Membeku di Dasar Laut Kotabaru
Nelayan Resah, Air Laut Beraroma Semen

Tenggelamnya kapal KM Kanon San di perairan Kotabaru sekitar 200 meter arah Barat dari Pelabuhan Panjang meresahkan para nelayan. Pasalnya kapal tersebut mengangkut belasan ribu sak semen yang dikhawatirkan bisa mencemari laut.

Yan, Kotabaru

Dari keterangan resmi Wakpolres Kompol Kaswandi Irwan SIK, Kapal Motor Kanon San bermuatan 16.000 sak semen, atau sekira 800 ton semen. Tenggelamnya kapal, membuat semen tersebut basah dan mengeras di dasar laut Kotabaru.

“Wah kalau memang tadi malam itu kapal bermuatan semen sebanyak itu, maka itu bisa menjadi ancaman besar bagi kami para nelayan, bisa saja kan, ikan-ikan disana mati atau pindah tempat,” ujar Be’du nelayan Kotabaru kepada Radar Banjarmasin, Rabu (01/2).

Mendapati keresahan warga itu maka Ketua Komisi 2 DPRD Kotabaru, H Syaiful Bahri segera menghubungi Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru. Maka kemudian Kabid Pemulihan Emilia Sulistiawati bersama beberapa stafnya segera menuju pelabuhan untuk mengambil sampel air di lokasi tenggelamnya kapal.

Dengan menggunakan dua buah speed boat rombongan berangkat ke perairan, dimana didalamnya terdapat bangkai kapal KM Kanon San yang tenggelam. Perjalanan ke lokasi dimudahkan dengan adanya tanda yang telah diletakkan Adpel berupa pancangan bendera merah mencolok, juga berfungsi sebagai peringatan kepada kapal-kapal agar jangan melintas di atasnya karena dikhawatirkan akan menabrak tiang kapal Kanon San.

Dan ketika sampai di lokasi, maka jelas tercium bau semen sementara di atas air terlihat gelembung-gelembung minyak mengambang. “Disinilah lokasi kapal yang tenggelam, dan dinas sepertinya sudah bisa mengambil sampel airnya,” ujar Syaiful Bahri.

Sehabis berputar-putar di lokasi dan membuat beberapa liter air laut kedalam jeriken, mereka kembali ke darat. 

“Nanti kami akan bawa dulu sampel air ini ke Lab di Banjarmasin untuk mengetahui seberapa besar tingkat pencemaran akibat tenggelamnya ratusan ton semen dan tentu di dalam kapal itu juga terdapat drum-drum berisi minyak” ujar Emilia kepada Radar Banjarmasin.

Dia juga berjanji akan secepanya memberikan kabar begitu hasil penelitan sudah selesai. Yang jelas, tambahnya, pencemaran itu bisa berbahaya bagi biota di laut, dimana kehidupan ikan-ikan bisa terganggu dan terancam.

Dilain pihak Wakapolres yang dihubungi Radar Banjarmasin via seluler mengatakan akan secepatnya menarik bangkai kapal dari dalam laut bekerjasama dengan Adpel Kotabaru. “Kita juga masih sedang mendalami apakah tenggelamnya kapal akibat kelalaian atau memang kecelakaan terjadi akibat cuaca buruk,” ujarnya. (yn/bin) baca juga disini