Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahukah Anda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

SEBUAH CERITA CAP GO MEH DARI KOTABARU


ADA “SINGA” MENARI HIBUR WARGA, BERBAUR DALAM KEBERSAMAAN

Senin malam (06/02) didepan Kelenteng An Hwa Tian, ramai warga tua-muda menyaksikan “singa” menari. Puncak perayaan Imlek, Cap Go Meh, merupakan hiburan tersendiri bagi warga Kotabaru, dan Barongsai adalah maskotnya.

Zalyan Shodiqin Abdi, Kotabaru

Bunyi suara tabuhan seperti Simbal (cai-cai), Gong (Nong), dan Tambur iringi tarian dan liukan 3 Barongasi, sementara anak-anak rebutan ambil angpao ditangan panitia. Meski dalam perayaan kali ini Barongsai dimainkan oleh anak-anak remaja tapi terlihat kalau mereka luwes dan terampil, hingga Barongsai sejatinya hanya kostum terlihat seolah hidup. Penonton pun turut larut dalam hentakan tambur, wajah mereka sumringah.

Anak-anak berebut, dan para orang tua dengan suka rela mengangkat anak mereka yang masih balita ke atas pundak demi pandangannya leluasa. Jelas sekali, meski perayaan itu adalah merupakan tradisi orang-orang Cina, namun warga pribumi Kotabaru bisa berbaur menikmati setiap detik tarian Barongsai. “Pa, angkat Nanda, supaya bisa melihat,” ujar anak kecil yang minta diangkat, agar pandangannya tak terhalang.

Sementara di atas terlihat bulan meski disaput awan, karena memang akhir-akhir ini di Kotabaru sering hujan, beruntung malam itu tidak. Darman AS (Ang Hwa Bing), yang dihampiri Radar Banjarmasin (06/02), mengisahkan kalau perayaan Cap Go Meh adalah salah satu tradisi masyarakat Cina. “Perayaan ini dilaksankan tepat pada malam ke-15 dari tahun baru Imlek, tujuannya adalah agar pada tahun ini warga semua dalam keadaan sejahtera, dan tambah rezeki,” ujarnya.

Dia menambahkan, perayaan Cap Go Meh kali ini juga sebagai ajang silaturahmi antar warga keturunan Cina di Kotabaru dan masyarakat Kotabaru. Dan semoga, tambahnya, generasi muda terus melestarikan warisan-warisan budaya leluhur, karena merupakan sebuah kebanggan bagi masyarakat yang notabene punya beragam tradisi kebudayaan.

Seusai acara tarian Barongsai, dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat, Ang Hwa Bing lantas mengajak Radar pergi ke Kelenteng. Didalam terlihat beberapa warga turunan Tionghoa khusuk berdoa, dan lainnya riang bercengkerama pelan sembari menikmati hidangan spesial, lontong Imlek.

Mereka tampak membaur dalam kekeluargaan, ruangan Kelenteng didominasi dengan kuning temaram dari berbagai lilin seakan mendukung terciptanya suasana ramah. Seperti Wu Chenxu, Guo Licheng dan Ye Deming dalam bukunya Zhongguo de Fengsu Xiguan (Taipei 1977) mengatakan, bahwa bangsa Tionghoa adalah bangsa yang mengutamakan kebersamaan dan tidak bersifat individualis, memang terbukti malam itu, utamanya bagi warga Kotabaru.

DPRD Kotabaru Diteror

Gara-Gara Solar DPRD Diteror

KOTABARU – Terkait dengan adanya rapat hearing (03/02) yang diadakan DPRD Kotabaru, Polres dan Pertamina Kotabaru, terkait keluhan para sopir truk tentang sulitnya mendapatkan solar, maka pada hari Sabtu (04/02) Ketua Komisi 1 M Faruq mendapat teror dari penelpon tak dikenal. “DPRD Kotabaru sudah terlalu jauh dalam mengurusi masalah solar,” ujar Faruq menirukan ucapan orang tak dikenal itu.

Dia yang sempat berbicang-bincang dengan Radar Banjarmasin seusai acara penutupan Pelatihan Batik di Gedung Paris Barantai, menegaskan tidak akan gentar dengan adanya telepon yang rada bersifat ancaman itu. Katanya, DPRD Kotabaru bukan sekali dua mendapat teror dari orang-orang tak jelas.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada hari Senin (30/01), para sopir truk ramai mendatangi gedung DPRD, mereka berdemo tentang sulitnya mendapatkan solar. Dan dalam demo tersebut, mereka mengatakan kalau kurangnya pasokan solar di SPBU adalah karena adanya para palangsir, dimana justru diduga dilakukan oleh oknum.

Menanggapi masalah itu, pada hari Jumat (03/02), pihak DPRD Kotabaru mengadakan rapat dengan Polres, Kodim dan Pertamina Kotabaru. Sayang dalam rapat tersebut para sopir truk yang sebelumnya berdemo tidak datang. “Saya heran kenapa mereka tiba-tiba seperti hilang ditelan bumi , padahal rapat ini atas kehendak mereka,” ujarnya waktu itu.

Dalam rapat tersebut dihasilkan keputusan kalau dalam sehari mobil pribadi di SPBU hanya boleh mengisi solar maksimal 30 liter, mobil penumpang 70  liter, dan truk 60 liter. Selain itu pihak dari Polres, diwakili Kasat Intel AKP Hery, Kodim diwakili Pasi Intel Kapten Zukifli, berjanji  akan menyelidiki dan apabila ada oknum nanti terbukti melakukan pelangsiran, mereka akan menindak tegas.

Sedangkan Kepala Pertamina, Imam Hardjito yang ditemui dikantornya kemarin mengatakan kalau apa yang dilakukan Pertamina, mendistribusikan solar ke SPBU sudah tepat. “Kami akan pasang instruksi di setiap SPBU tentang pembagian solar seperti yang diputuskan dalam rapat. Kalau itu ditepati maka saya yakin Kotabaru tidak akan kekurangan solar,” ujarnya.

Dia sendiri mengaskan kalau masalah pelangsiran tidak tahu samasekali. Bahkan pihak Pertamina sendiri, katanya, akan sangat berang jika ada anggotanya yang “kong-kalikong” dengan pihak-pihak pelangsir. Dia berjanji akan menindak tegas, seumpama ada SPBU nakal.

Sementara itu AKP Hery yang dihubungi lewat seluler mengatakan akan terus memantau dan menyelidiki SPBU-SPBU di Kotabaru. “Masih kami selidiki, dan sampai sekarang belum ada oknum yang terbukti melangsir, tapi kalau ada akan kami tindak tegas,” ujarnya via sms.

Dari itu ketika wartawan koran ini menanyakan kepada Faruq tentang apakah yang menelpon itu adalah kawanan atau oknum dari pelangsiran, dia tidak berani memastikan. “Kita tidak tahu, tapi yang jelas hal ini tidak usah diperpanjang, sudah biasa itu dalam dunia sekarang ini,” ujarnya. (mr-119)

Sabtu, 04 Februari 2012

Perahu Katir Nusantara 2, Effendy Soleman Taklukkan Nusantara, Mampir di Kotabaru

Pendi, Pelaut Pemberani Taklukan Laut dengan Perahu Kecil
Niat ke Merauke, Singgah Bakar Semangat Pemuda Kotabaru

Tanah rumahku
Air halamanku
Sekali berlayar
Pantang kita bersurut

Yan, Kotabaru

Kata-kata itu diucapkan Effendy Soleman, 61, setibanya di siring laut Kotabaru, tepuk tangan dan decak kagum pun iringi setiap kata yang dilontarkannya. Sosok pria berdarah Bugis-Ternate ini memang telah dinanti-nantikan oleh warga Kotabaru, demi melihat dari dekat sosok yang 30 tahun lalu mulai menaklukkan daerah-daerah pesisir Nusantara mulai Sabang sampai Merauke lewat jalur laut, hanya dengan perahu katir (perahu berukuran kecil dan menggunakan cadik bambu) sepanjang 7 meter-an.

 
Sebelumnya, kedatangannya dengan menggunakan perahu katir bermesin dari arah laut sudah menjadi pusat perhatian warga Kotabaru. Dengan perahu berwarna putih, senada laut yang membiru, Effendy dan 3 ABK (Anak Buah Kapal), Haberta, Sugi dan Yamani, disambut pelukan hangat dari Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Kotabaru Letkol Laut (P) Yudi Subiantoro. Tabuhan musik daerah dan tarian Kotabaru dari beberapa pelajar iringi prosesi penyambutan itu, kembang melati dilingkarkan ke leher Effendy yang legam terbakar matahari.

 
Setelah itu Pendi, begitu ia biasa dipanggil, diarahkan ke gedung Operation Room Pemkab Kotabaru. Disana dia sudah ditunggu warga untuk bercerita tentang pengalamannya berkeliling nusantara hanya dengan menggunakan sebuah biduk kecil bermesin yang diberi nama Katir Nusantara 2.

 
Kita ini merupakan putra dari negara yang merupakan kumpulan kepulauan. Laut kita jauh lebih banyak dibandingkan dengan daratan, ujarnya membakar semangat. Pendi mengatakan seringkali orang luar lebih mencintai laut Indonesia dibandingkan orang Indonesia sendiri.

Pendi, dengan terus bersemangat mengatakan pentingnya mencintai warisan bahari bagi generasi muda, utamanya yang berada dipesisir. Karena, tegasnya nenek moyang kita adalah orang-orang yang sudah terkenal tangguh dalam menaklukkan lautan. “Buatlah diri kita bermanfaat, dan usahakan dalam berkarya kita bisa melebihi orang lain. Kalau kalian sudah sering berlayar, maka kalian akan tahu kapan ada badai dan perkiraan-perkiraan cuaca lainnya hanya dengan melihat alam, itulah cara nenek moyang kita,” ujarnya.

 
Di kalangan teman-temannya, pria ini juga dikenal dengan sebutan Hantu Laut, sudah beberapa penghargaan didapatnya, seperti Pelayar Lepas Pantai Tunggal Pertama Indonesia dari PORLASI (1988), Pemuda Pelopor Bidang Bahari Tingkat Nasional (1988), dan seabrek panghargaan lainnya. Kehadirannya di Kotabaru adalah dalam perjalannya menaklukkan Sabang sampai Merauke dalam ekspedisi bernama Ekspedisi Layar Sabang-Merauke.

 
Start keberangkatan di mulai di Jakarta pada tanggal 29 Mei 2011. Rute sendiri, kata Pendi terdiri dari dua, Etape 1 Jakarta-Sabang-Muntok dan Etape 2 Muntok-Merauke. “Pada tanggal 11 Januari kemarin kami berangkat Dari Muntok ke Banjarmasin, dan dari Banjarmasin pada tanggal 30 Januari saya berangkat ke Kotabaru,” tambahnya menjelaskan rute-rutenya.

 
Apakah tidak takut berlayar dari Banjarmasin ke Kotabaru dengan keadaan gelombang yang tidak bersahabat seperti sekarang ini? Pendi hanya tertawa. “Melaut itu sudah mendarah daging, lagian kalau di laut, tidak selamanya cuaca buruk, pasti ada celah- celah yang bisa dilalui oleh perahu,” sebutnya setengah berfilosofi.

 
Puas berbagi dengan para warga dan pelajar di Kotabaru, para pria pemberani ini akhirnya diantar oleh Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Yudi Subiantoro ke sebuah penginapan di Kotabaru untuk beristirahat. Rencananya, jika mesin sudah baik, Pendi dan kawan-kawan akan terus berlayar ke Merauke. “Sekali berlayar pantang kita bersurut,” ujarnya. baca juga disini

Cerita Jelang Azan di Kotabaru, Pelajar Ngastol

Orang Tua Diminta Waspada, Ngastol Rusak Remaja Kotabaru

Mau ke Mesjid Saja Masih Sempat Ngastol


Masih tentang kisah anak di Kotabaru. Jika kemarin wartawan koran ini menemukan Rifai “spider kid” yang rajin membantu orang tua. Maka kali ini wartawan Radar Banjarmasin menemukan sisi lain ulah anak bumi saijaan. Ngastol.
Yan, Kotabaru
Waktu sudah hampir tengah hari, Jumat (3/2) kemarin. Saatnya bagi para laki-laki, berwangi-wangi untuk berangkat menunaikan ibadah salat Jumat. Wartawan koran ini yang sedang dalam perjalanan menuju pulang, mampir di sebuah gazebo yang terletak di atas ketinggian bukit belakang Kelentang.

Tapi apa yang ditemukan wartawan koran ini di tempat itu sungguh mengejutkan. Ketika lantunan ayat suci Alquran terdengar dari menara masjid-masjid, sekelompok remaja berbusana muslim, lengkap dengan peci, malah tampak asik menghirup sesuatu dari bungkus plastik. Mereka juga tampak kaget, bahkan ada yang lantas membuang plastik transparan yang mereka tempelkan di mulut.

Dari aroma yang tercium, bisa ditebak, plastik tersebut berisi lem merek tertentu. Ternyata anak-anak ini lagi ngastol. Demikian anak-anak tersebut menyebut aktivitas menghirup uap lem, merujuk pada jenis lem yang gunakan. Meskipun sebenarnya lem yang digunakan adalah merek lain.

Setelah mengetahui yang menghampiri mereka bukan anggota polisi, anak-anak ini pun tampak cengar-cengir ketika ditanya wartawan soal aktivitasnya itu.

Salah satu anak, sebut saja Amat (bukan nama sebenarnya) mengatakan, kalau menghisap lem itu membuat perasaan indah melayang-layang, sehingga semua beban terlupakan.

Asik sekali, serasa terbang ulun mulai dari Desa Baharu sampai Desa Rampa. Pernahlah pian merasakan?” ujarnya yang mendapat sambutan tawa riuh dari teman-temannya yang berseragam pramuka setingkat SMP.

Dari gaya bicaranya, tampaknya anak ini memang sedang fly, mabuk lem. Kepalanya selalu bergoyang-goyang, sementara matanya sayu menatap ke kejauhan.

Dia juga bertutur, ngastol, demikian istilahnya, biasa dilakukan sekali dalam seminggu. Karena kalau setiap hari, mereka mengaku tidak punya uang.

Selepas berbincang-bincang sejenak dan mengingatkan mereka akan bahaya ngastol, wartawan koran ini pun melanjutkan perjalanan. Tapi belum habis rasa terkejut mendapati pelajar ngastol, wartawan koran ini kembali dikagetkan dengan rombongan remaja yang tengah adu cepat dengan kendaraan roda dua di jalan raya, tanpa helm pula.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polres Kotabaru, Iptu Tukiman SH yang dimintai keterangan oleh Radar Banjarmasin, mengingatkan kepada para orang tua dan guru di Kotabaru, agar lebih waspada lagi dalam mengawasi anak-anaknya. “Biasanya mereka ngastol itu adalah karena faktor ikut-ikutan, jadi lingkungan pergaulan anak harus terus dipantau,” ujarnya. (yn/bin) baca juga disini

Rapat Hearing Kotabaru, DPRD, Polres Kotabaru, Kodim dan Pertamina Terkait Masalah Solar

suasana rapat
Para Sopir Hilang Saat Digelar Hearing di DPRD Kotabaru

KOTABARU – Ketua Komisi 1 DPRD Kotabaru M Faruq heran dengan rapat hearing yang digelar dewan bersama Pertamina dan Polres Kotabaru, Jumat (03/02). Para sopir yang sebelumnya sempat demo, malah tak muncul.


“Rapat ini kan, diadakan atas permintaan dari para sopir truk yang berdemo kemarin. Tapi kok, para sopir itu tidak hadir ya, mereka yang tiap pagi juga katanya ramai antre di SPBU, pagi tadi ini sepi,” ujarnya bertanya-tanya seusai rapat. 

 
Pertanyaan itu dia ajukan kepada Kasat Intel Polres AKP Hery dan Pasi Intel Kodim Kapten Zulkifli. Keduanya sama menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Faruq. Karena, kata Faruq, memang patut dipertanyakan. 

 
Pasalnya, pada hari Senin (30/01) para sopir dengan bersemangat demo di gedung DPRD, dan meminta para wakil rakyat membereskan masalah mereka, tapi ketika pihak-pihak terkait sudah dihadirkan, mereka malah tidak terlihat, dan jejaknya pun seolah lenyap. 

 
Dan ketika Radar Banjarmasin mencoba menghubungi salah satu telepon genggam dari sopir yang beberapa hari lalu berdemo di gedung DPRD, maka dari nada ponselnya terdengar jawaban kalau pengguna sedang berada pada area yang tidak terjangkau jaringan. 

 
Memang, beberapa hari yang lewat dari bisik-bisik wartawan koran ini dengan pihak sopir di sebuah warung kopi, diduga kalau yang melangsir selama ini di SPBU Stagen adalah para oknum aparat.
Katanya, sejak pagi mereka sudah mempersiapkan mobil yang bisa membawa beratus-ratus solar, dan diperkirakan menjualnya ke perusahaan tambang. 

 
Dan ketika hal tersebut dikonfirmasikan ke Polres, Paur Humas Aiptu Sahropi mengatakan kepada Radar Banjarmasin, Kamis (02/01), kalau Wakapolres Kotabaru Kompol Kaswandi Irwan SIK, menugaskan Sat Intel, Sat Reskrim dan Sat Paminal (Pengamanan Internal) untuk berjaga-jaga dan mengawasi setiap SPBU. Apabila ada oknum yang kedapatan melangsir maka akan langsung ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. 

 
Ketua DPRD Kotabaru, Alpidri Supian Noor MAP juga mengimbau kepada masyarakat agar jangan takut, kalau memang ada pelangsir yang kedapatan beroperasi di SPBU, laporkan dan catat plat mobilnya. 

 
Di sisi lain, pihaknya juga mengherankan, kenapa pasokan solar di SPBU sebanyak 800.000 liter bisa tidak mencukupi, sehingga banyak para sopir kemudian mengeluh tidak kebagian solar. 

 
“Kita juga harus mengawasi Pertamina, jangan sampai pasokan solar memang tidak cukup,” ujar Ketua Komisi 2 H Syaiful Bahri dalam rapat yang berlangsung panas itu. 

 
Namun sayang, Pertamina sendiri tidak banyak berkomentar apa-apa terkait isu tersebut. Dan ketika para awak media mengejar mereka seusai rapat dari lantai 2 hingga ke tempat parkiran, pihak Pertamina selalu menghindar. 

 
Dalam rapat terbuka tersebut dihasilkan kata sepakat bahwa di SPBU setiap mobil pribadi hanya dibolehkan mengisi sebanyak 30 liter solar, mobil penumpang 70 liter, dan mobil truk sebanyak 60 liter per hari. 

 
Peraturan tersebut mulai diberlakukan sejak kemarin. “Selain itu, kita juga meminta kepada pihak dari Polres dan aparat lainnya, agar menertibkan SPBU-SPBU di Kotabaru, karena dari kabar yang kita dengar ada beberapa mobil yang membeli solar sampai 400 liter sehari, dan itu sangat tidak dibenarkan,” ujar Ketua DPRD Alpidri Supian Noor MAP. 

 
Dan dalam rapat itu juga pihak dari Polres, dalam hal ini Kasat Intel AKP Hery, berjanji akan menertibkan dan menugaskan anak buahnya berjaga-jaga serta mengawasi jalur distribusi solar, mulai dari hulu sampai ke hilir, apakah benar dalam sebulan solar yang masuk ke SPBU Kotabaru sebanyak 800.000 liter perbulannya. 

 
“Karena jangan sampai kita kecolongan. Selama ini kita selalu mendapat jawaban dari Pertamina Kotabaru kalau pasokan solar sudah cukup tapi belum tentu kan, itu benar, bisa saja sebenarnya pasokan solar itu tidak cukup, karena ada sesuatu apa,” ujar Ketua Komisi 2 H Syaiful Bahri dalam rapat yang berlangsung panas itu. (mr-119) baca juga disini

Jumat, 03 Februari 2012

Kisah Rifai, "Spider Kid" Asal Kotabaru di Musim Langsat

Kisah Rifai, "Spider Kid" Asal Kotabaru di Musim Duku

Bantu Orang Tua, Menikmati Pemandangan dari Ketinggian

Pa'i sedang asik petik langsat
Jika warga Jakarta pernah heboh dengan aksi-aksi Fitriyah (10) ”Spider Kid” asal Ciputat yang hobi memanjat tower listrik. Maka di Kotabaru, juga ”Spider Kid” yang seusia Fitri. Namanya Rifai. Tapi hobinya jauh lebih bermanfaat, seperti apa?
Yan, Kotabaru

Ketika teman-teman sebayanya sedang asik bermain di lapangan bola atau berenang di laut yang asin, Pa’i -demikian ia biasa disapa- Pelajar kelas 4 SD dengan postur mungilnya, Kamis (2/2) kemarin justru berada di atas pohon langsat (duku, Red) setinggi 7 meter-an. Tanpa pengaman dan alat bantu, ia memanjat pohon demi membantu orang tua.

 
Pa’i (10) adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara, putra pasangan Bowo dan Sarliah. Di musim langsat seperti sekarang ini, ia merelakan waktu bermainnya habis diatas pohon.
Seperti sore kemarin, dengan masih menggunakan celana sekolah, dia dengan berbekal sebuah keranjang yang diikat dengan tali, dengan lincah mengumpulkan buah langsat.

 
Pluk, pluk, pluk, suara langsat yang dia taruh ke dalam keranjang, terdengar dari bawah pohon. “Kalau sudah penuh tolong turunkan ke bawah keranjangnya,” ujar Suli seorang pembeli.
Pa’i tidak sendiri, dia ditemani Sarliah, ibunya. “Kalau sedang musim langsat, anak-anak tanpa disuruh pasti akan membantu. Selain dia, biasanya si kakak, Nurdin, yang setahun lebih tua juga membantu saya mengumpulkan hasil panen,” ujarnya.

 
Ketika ditanya, apakah tidak khawatir anaknya yang masih kecil itu memanjat pohon tinggi tanpa pengaman, dia menggelengkan kepalanya. “Anak-anaknya belum pernah terjatuh dari pohon, lagi pula kalau pohonnya tinggi yang memanjat bapaknya,” ujar Sarliah. Ayah Pa’i, Bowo sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.

 
Sedangkan Pa’i sendiri ketika ditanya, mengatakan kalau urusan panjat-memanjat itu adalah hal kecil, karena sudah terbiasa. Lagian juga, tambah anak Desa Sarang Tiung Kecamatan Pulau Laut Barat –sekitar 14 kilometer dari pusat kota kabupaten, diatas pohon pemandangannya indah sekali. “Disini semua keliatan om, ada pantai, ada bagang juga. Jadi ya, asik saja,” ujarnya tersenyum.

 
Selain itu dia sendiri mengaku merasa bangga bisa membantu orang tua. Katanya, hanya pada musim langsat seperti ini keluarganya bisa sedikit meresakan untung lumayan. Kalau hari-hari biasa, keadaan ekonomi mereka sangat pas-pasan. Jadi, tambahnya, apa salahnya sebulan dalam setahun tidak bermain agar bisa memungut buah langsat sehingga tidak busuk di pohon.

 
Memang, tutur Sarliah, pemanenan langsat tidak bisa dilakukan sendiri, karena buahnya sangat cepat proses matangnya. Wanita paruh baya ini pada musim buah tahun ini, membeli 20 batang pohon langsat di perkebunan seorang warga setempat. Buah dari 20 pohon itu diborong seharga Rp10 juta. 


Setelah dipetik, ia menjual lagi buah tersebut, baik kepada pedagang, maupun menjual sendiri kepada pembeli. Seperti sore kemarin, beberapa orang yang kebetulan lewat, mampir dan membeli. ”Hitung-hitungan kasar, kalau semuanya habis, untungnya sekitar Rp5 juta,” ujarnya (yn/bin) baca juga disini

Cerita Susai Tenggelamnya Kapal Kanon San di Kotabaru

Lokasi tenggelamnya kapal
Ketika 800 Ton Semen Membeku di Dasar Laut Kotabaru
Nelayan Resah, Air Laut Beraroma Semen

Tenggelamnya kapal KM Kanon San di perairan Kotabaru sekitar 200 meter arah Barat dari Pelabuhan Panjang meresahkan para nelayan. Pasalnya kapal tersebut mengangkut belasan ribu sak semen yang dikhawatirkan bisa mencemari laut.

Yan, Kotabaru

Dari keterangan resmi Wakpolres Kompol Kaswandi Irwan SIK, Kapal Motor Kanon San bermuatan 16.000 sak semen, atau sekira 800 ton semen. Tenggelamnya kapal, membuat semen tersebut basah dan mengeras di dasar laut Kotabaru.

“Wah kalau memang tadi malam itu kapal bermuatan semen sebanyak itu, maka itu bisa menjadi ancaman besar bagi kami para nelayan, bisa saja kan, ikan-ikan disana mati atau pindah tempat,” ujar Be’du nelayan Kotabaru kepada Radar Banjarmasin, Rabu (01/2).

Mendapati keresahan warga itu maka Ketua Komisi 2 DPRD Kotabaru, H Syaiful Bahri segera menghubungi Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru. Maka kemudian Kabid Pemulihan Emilia Sulistiawati bersama beberapa stafnya segera menuju pelabuhan untuk mengambil sampel air di lokasi tenggelamnya kapal.

Dengan menggunakan dua buah speed boat rombongan berangkat ke perairan, dimana didalamnya terdapat bangkai kapal KM Kanon San yang tenggelam. Perjalanan ke lokasi dimudahkan dengan adanya tanda yang telah diletakkan Adpel berupa pancangan bendera merah mencolok, juga berfungsi sebagai peringatan kepada kapal-kapal agar jangan melintas di atasnya karena dikhawatirkan akan menabrak tiang kapal Kanon San.

Dan ketika sampai di lokasi, maka jelas tercium bau semen sementara di atas air terlihat gelembung-gelembung minyak mengambang. “Disinilah lokasi kapal yang tenggelam, dan dinas sepertinya sudah bisa mengambil sampel airnya,” ujar Syaiful Bahri.

Sehabis berputar-putar di lokasi dan membuat beberapa liter air laut kedalam jeriken, mereka kembali ke darat. 

“Nanti kami akan bawa dulu sampel air ini ke Lab di Banjarmasin untuk mengetahui seberapa besar tingkat pencemaran akibat tenggelamnya ratusan ton semen dan tentu di dalam kapal itu juga terdapat drum-drum berisi minyak” ujar Emilia kepada Radar Banjarmasin.

Dia juga berjanji akan secepanya memberikan kabar begitu hasil penelitan sudah selesai. Yang jelas, tambahnya, pencemaran itu bisa berbahaya bagi biota di laut, dimana kehidupan ikan-ikan bisa terganggu dan terancam.

Dilain pihak Wakapolres yang dihubungi Radar Banjarmasin via seluler mengatakan akan secepatnya menarik bangkai kapal dari dalam laut bekerjasama dengan Adpel Kotabaru. “Kita juga masih sedang mendalami apakah tenggelamnya kapal akibat kelalaian atau memang kecelakaan terjadi akibat cuaca buruk,” ujarnya. (yn/bin) baca juga disini

Kotabaru, Kapal Kargo Tabrakan dan Tenggelam

Kapal Bermuatan Enam Belas Ribu Sak Semen Tenggelam
Petaka Laut Kotabaru Akhir Januari

Tim Pol Air yang dapat berita
KOTABARU – Selasa (31/01) malam sekitar jam 21.00 para petugas Pol Air di Pelabuhan Panjang geger dengan adanya tanda peringatan bahaya sebanyak dua kali di tengah laut, sekitar 200 meter arah Barat Pelabuhan Panjang Kotabaru . Dari peralatan radio jarak jauh yang mereka buka, maka terdengar kabar kalau di tengah lautan sebuah kapal sedang dalam kondisi bahaya, hampir tenggelam.

Kaur Binop Aiptu H Sumari lantas segara bergegas menugaskan para periwira di Pol Air untuk berangkat ke daerah titik lokasi, dimana peringatan bahaya tadi dikirimkan oleh kapal. Dengan sebuah speed boat, periwira Pol Air, Tim Adpel Kotabaru segera berangkat disusul dengan tim Basarnas Kotabaru dengan menggunakan perahu karet cepat.

Ditengah cuaca gerimis dan gelombang laut yang tinggi, tim gabungan ini berlomba menuju lokasi. Sayang ketika sampai ditujuan, yang didapati hanya kabar kalau kapal yang mengirimkan tanda bahaya tadi sudah tenggelam kedalam laut, dan yang tertinggal mengapung di laut hanya papan nama kapal bertuliskan: KM Kanon San.

Tim tiba di lokasi
Dari jalur radio komunikasi di perahu karet cepat Tim Basarnas, wartawan koran ini yang berkesempatan ikut mendengar bahwa kapal memang sudah tenggelam namun awak kapal semua telah diselamatkan oleh para nelayan Desa Rampan yang ternyata sudah lebih dahulu sampai kelokasi. “Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan kali ini,” ujar sebuah suara dari peralatan radio jarak jauh.

Setelah itu Tim Gabungan segera kembali ke darat karena cuaca sedang tidak bersahabat. Dan sekitar jam 22.00 Wakapolres Kompol Kaswandi Irwan SIK datang ke pelabuhan, dan dia pun segera mengajak Tim yang baru tiba tadi kembali kelautan.

Sehabis meninjau dan berkeliling disekitar lokasi kejadian untuk memastikan bahwa memang tidak ada korban jiwa dalam kecalakaan laut kali ini, maka dia kembali ke pos Pol Air. Disana dia menggelar jumpa pers dan menceritakan kronologis kejadian yang berjasil dihimpun Tim Gabungan baik yang bertugas di laut atau di darat.

Saat kejadian, katanya bercerita, 3 buah kapal kargo masing-masing bernama Taruna Putra 3 dengan 17 ABK, KM Kanon San dengan 13 ABK, dan Permata Abadi dengan 12 BK, sedang berlabuh diperairan dekat Pelabuhan Panjang Kotabaru. Diduga karena ombak yang kencang, arus laut yang kuat maka jangkar kapal Taruna 3 yang berada disebelah kiri kapal Kanon San terseret dan haluannya kemudian menghantam lambung kiri Kanon San.

salah satu kapal yang bersenggolan
Benturan itu mengkibatkan Kanon San mengalami kebocoran, namun arus laut masih saja dengan kuat menyeret kedua kapal ini sehingga kembali membentur kapal Permata Abadi yang berada disebelah kanan kapal Kanon San. Berhubung terjepit akhirnya posisi Kanon San miring dan air laut semakin banyak masu, ditambah dengan adanya muatan semen sebanyak 800 ton (16.000 sak, Red), maka kapal kemudian tenggelam. Dan rencananya akan secepatnya di evakuasi agar tidak mencameri perairan Kotabaru.

Kapten kapal Kanon San, Mose membenarkan keterangan dari Wakapolres tesebut. “Saat itu arus deras dan gelombang tinggi, belum lagi cuaca yang gelap kerena hujan deras, sangat menyulitkan kami dalam mengendalikan kapal. Padahal semen itu rencananya akan kami bawa ke Toli-Toli Sulawasi Barat setelah membelinya di Tarjun,” ujarnya kepada Radar Banjaramasin.

Kesokan harinya Radar Banjarmasin sempat bertemu dengan seorang saksi mata, Adnan (36). Dia yang sore Rabu (01/02) dengan ditemani oleh Ketua Komisi 2 DPRD Kotabaru H Sayiful Bahri bercerita kalau pada saat kejadian dia dan beberapa warga Desa Rampa Lama Kecamatan Pulau Laut Utara, terkejut melihat tanda bahaya di laut, yang biasa mereka yakini sebagai alamat adaanya kecelakaan.

Melihat itu dia pun bergegas pergi kelokasi dengan anaknya menggunakan kapal Balapan. Dan sesampainya di lokasi dia melihat kapal Kanon San sudah hampir tenggelam, dan ketika diperiksa maka di dalam kapal hanya tinggal Kapten Mose. Dia pun lantas mengajak Mose meninggalkan kapal, kerena kapal tidak mungkin bisa diselamatkan.

Adnan saksi, didampingi dewan
“Saya sempat melihat bagaimana besarnya robekan lambung kapal. Air masuk dengan cepat ke dalam kapal, sehingga saya lantas meneriaki Kapten yang terlihat di haluan agar segera melompat saja karena kapal sudah hampir tenggalam, karena memang kapten kapal biasanya akan terus dikapal sampa kapal memang benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan” ujarnya.

Sementara para nelayan lainnya atas saran Syaful Bahri yang pada saat kejadian kebetulan berada di Desa Rampa segera menyusul Adnan. Ditengah lautan kemudian mereka melihat para ABK  Kanon San berenang di lautan berusaha mencapai darat yang kemudian satu persatu dinaikkan nelayan ke kapal balapan, lantas ditampung di rumah-rumah warga. (mr-119)

Lagi, Kapten Kapa Perintis Delta Sembada Hanya Berbelak Tandatangan Dari Kotabaru ke Majene

Penumpang yang terkatung
Kapal Perintis, Keberangkatannya Penuh Tanda Tanya
Terkait Izin Kelaikan Kapal

KOTABARU – Lagi, polemik izin keberangkatan Kapal Perintis Delta Sembada terjadi. Sekitar jam 17.00 Kapten kapal, Usman, menghubungi wartawan Radar Banjarmasin via seluler. “Mas, ini bagaimana? Kapal kami tidak bisa lagi berangkat ke Majene hari ini kerana Adpel belum memberika izin, kasian penumpang kalau terlantar lagi,” ujarnya.

Mendapati hal tersebut wartawan koran ini segera menghubungi Kasubsi Kalikan Kapal, Adpel Kotabaru Capt YK Te'Dang. Sayang dia yang dihubungi via seluler tidak ada balasan.  Padahal permasalahan itu, katanya, berdasarkan izin kelaikan kapal yang perlu diperbaharui.

Sesampainya di Pelabuhan Panjang tempat kapal bersandar, maka disana terlihat para penumpang gelisah. Mereka mengatakan, sangat ingin berlayar ke Majene secepatnya. “Kalau kami lama disini, bagaiman kami bisa makan? Uang dikantong hanya cukup buat transport,” ujar Iwan, salah satu penumpang.

Sementara, Usman mengatakan kalau Adpel lagi-lagi memberikan surat pernyataan yang harus dia tandatangani, dimana isinya adalah kalau terjadi hal yang tidak diinginkan ketika berlayar maka itu menjadi tanggung jawab dari Kapten Kapal. Sedangkan, katanya, sesuai dengan peraturan yang bertanggung jawab dalam pelayaran adalah nahkoda, tetapi yang bertanggung jawab dalam memberikan izin berlayar adalah Adpel.

Dia juga menuturkan kalau sudah membawa masalah itu kepada Kepala Adpel Banjaramsin, Barnabas MMT. “Kapal Perintis, kan, adalah program dari Direktorat Jendral Perhubungan untuk mefasilitasi transportasi warga kepulauan lewat jalur laut. Spertinya Adpel di Kotabaru belum terlalu mengerti lagi tentang areal perairan disana,” ujarnya menirukan ucapan Bernabas.

Seperti diketahui sebelumnya, Kapal Delta Sembada belum mendapatkan izin dari Adpel karena dianggap belum diuji kelaikannya. Dam beberapa minggu sebelumnya, Perira Jaga Adpel, Taufik Rahman mengatakan, kalau kapal Perintis bisa saja berlayar, dengan catatan kapten kapal harus menandatangani surat pernyataan, bahwa kalau terjadi apa-apa maka itu adalah tanggung jawab kapten. “Sedangkan izin berlayar yang resmi baru akan diberikan kalau sudah di lakukan pemeriksaan oleh Tim Adpel nanti,” ujarnya.

Namun sampai sekarang Usman, mangaku belum ada tim dari Adpel yang turun menguji kalaikan kapal. Dia pun akhirnya bertanya-tanya, apa sebenarnya keinginan dari Adpel Kotabaru. Kalau may kasih izin maka berikan, tambahnya, tapi kalau memang tidak boleh berlayar maka juga berika keputusan yang tegas, sehingga dia tidak terkatung-katung.

“Yang kasian kan, kami ini. Mau berangkat salah, tidak berangkat juga salah. Nanti juga, masalah ini akan saya bawa ke Pusat langsung. Kebetulan ada teman di Jakarya yang berjanji akan menghubungi Direktorat Jendral Perhubungan,” ujarnya di akhir pembicaraan dengan Radar.
 
Dan pada saat kesokan harinya, Radar Banjamasin kembali ke Pelabuhan untuk  melihat apakah kapal sudah berangkat atau belum, ternyata kapal sudah berangkat. Ketika dihubugi ponselnya tidak berada dalam arena jaringan. "Dia sudah berangkat, mas, hanya berbekal tandantangan surat pernyataan seperti ketika ia berangkat ke Marabatuan kemarin. Ini sudah yang ke 4 kalinya, dan jujur saya ga habis pikir apa maunya si Adpel," ujar Saparuddin ZM, Direktur PT Lautan Kumala, pemilik kapal. (mr-119)