Kategori Berita Kotabaru

Tampilkan postingan dengan label Kelautan dan Perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelautan dan Perikanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

Laut Kotabaru Aman

BMKG: Laut Kotabaru Aman Seminggu Kedepan

KOTABARU – Beberapa hari ini cuaca di Kotabaru terlihat kurang bersahabat, hujan dan hembusan angin. Kapal-kapal nelayan pun terlihat banyak yang merapat ke pinggiran perairan Kotabaru. Namun Staf Pengamat BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika), Fajar mengatakan kalau untuk semiinggu kedepan perairan di Kotabaru diperkirakan masih dalam kondisi aman. “Ketinggian gelombang sekitar 1 meter,” ujarnya.

Dia berjanji akan terus memantau keadaan cuaca di Kotabaru, karena bagaimanapun, katanya, pihaknya mempunyai tugas mengabarkan keadaaan cuaca kepada masyarakat. “Sukurlah kalau BMKG memperhatikan kami dalam bidang pengakabaran cuaca. Karena selama ini kami merasa kesulitan dalam memperolah kabar-kabar dari BMKG,” ujar H Badaruddin salah satu tokoh nelayan di Kotabaru.

Meski keadaan cuaca sering hujan dan ditingkahi angin yang lumayan kencang, tapi memang para nelayan Kotabaru tetap meneruskan pekerjaannya sehari-hari, melaut. Bahkan beberapa nelayan bagang di Lontar yang sebulan lampau dihantam badai, sekarang satu-persatu mulai lagi mendirikan bagang. “Ini sudah kewajiban, mas, kalau kami tidak melaut kami mau makan apa?” ujar Amir salah satu nelayan bagang Pulau Laut Barat kepada Radar lawat seluler.

Memang selama ini Kotabaru dikenal sebagai salah satu penghasil laut di Kalsel, maka jangan heran kalau banyak dari penduduknya yang bekerja sebagai nelayan. Dan seperti tutur Ketua DPRD Kotabaru, Alpidri Supian Noor, bahwa sedari dulu setiap tahun nelayan di Kotabaru selalu terbentur dengan musim yang tidak bersahabat. “Mengenai bagang yang pernah dihantam badai, memang seperti itu, sejak zaman nenek moyang,” ujarnya.

Meski demikian, Fajar juga tetap menyarankan kepada para nelayan di Kotabaru agar juga menerka keadaaan cuaca berdasarkan pengalaman mereka selama bertahun-tahun melaut. Karena, tambahnya, pihak BMKG sendiri sifatnya disini hanyalah melakukan pengamatan, dan yang namanya cuaca itu bisa berubah dalam sesaat. “Jadi kami hanya memperkirakan, sedangkan kepastian cuaca bukan kesanggupan kami mengatakannya,” ujarnya menutup pembicaraan dengan Radar. (mr-119)

Sabtu, 04 Februari 2012

Perahu Katir Nusantara 2, Effendy Soleman Taklukkan Nusantara, Mampir di Kotabaru

Pendi, Pelaut Pemberani Taklukan Laut dengan Perahu Kecil
Niat ke Merauke, Singgah Bakar Semangat Pemuda Kotabaru

Tanah rumahku
Air halamanku
Sekali berlayar
Pantang kita bersurut

Yan, Kotabaru

Kata-kata itu diucapkan Effendy Soleman, 61, setibanya di siring laut Kotabaru, tepuk tangan dan decak kagum pun iringi setiap kata yang dilontarkannya. Sosok pria berdarah Bugis-Ternate ini memang telah dinanti-nantikan oleh warga Kotabaru, demi melihat dari dekat sosok yang 30 tahun lalu mulai menaklukkan daerah-daerah pesisir Nusantara mulai Sabang sampai Merauke lewat jalur laut, hanya dengan perahu katir (perahu berukuran kecil dan menggunakan cadik bambu) sepanjang 7 meter-an.

 
Sebelumnya, kedatangannya dengan menggunakan perahu katir bermesin dari arah laut sudah menjadi pusat perhatian warga Kotabaru. Dengan perahu berwarna putih, senada laut yang membiru, Effendy dan 3 ABK (Anak Buah Kapal), Haberta, Sugi dan Yamani, disambut pelukan hangat dari Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Kotabaru Letkol Laut (P) Yudi Subiantoro. Tabuhan musik daerah dan tarian Kotabaru dari beberapa pelajar iringi prosesi penyambutan itu, kembang melati dilingkarkan ke leher Effendy yang legam terbakar matahari.

 
Setelah itu Pendi, begitu ia biasa dipanggil, diarahkan ke gedung Operation Room Pemkab Kotabaru. Disana dia sudah ditunggu warga untuk bercerita tentang pengalamannya berkeliling nusantara hanya dengan menggunakan sebuah biduk kecil bermesin yang diberi nama Katir Nusantara 2.

 
Kita ini merupakan putra dari negara yang merupakan kumpulan kepulauan. Laut kita jauh lebih banyak dibandingkan dengan daratan, ujarnya membakar semangat. Pendi mengatakan seringkali orang luar lebih mencintai laut Indonesia dibandingkan orang Indonesia sendiri.

Pendi, dengan terus bersemangat mengatakan pentingnya mencintai warisan bahari bagi generasi muda, utamanya yang berada dipesisir. Karena, tegasnya nenek moyang kita adalah orang-orang yang sudah terkenal tangguh dalam menaklukkan lautan. “Buatlah diri kita bermanfaat, dan usahakan dalam berkarya kita bisa melebihi orang lain. Kalau kalian sudah sering berlayar, maka kalian akan tahu kapan ada badai dan perkiraan-perkiraan cuaca lainnya hanya dengan melihat alam, itulah cara nenek moyang kita,” ujarnya.

 
Di kalangan teman-temannya, pria ini juga dikenal dengan sebutan Hantu Laut, sudah beberapa penghargaan didapatnya, seperti Pelayar Lepas Pantai Tunggal Pertama Indonesia dari PORLASI (1988), Pemuda Pelopor Bidang Bahari Tingkat Nasional (1988), dan seabrek panghargaan lainnya. Kehadirannya di Kotabaru adalah dalam perjalannya menaklukkan Sabang sampai Merauke dalam ekspedisi bernama Ekspedisi Layar Sabang-Merauke.

 
Start keberangkatan di mulai di Jakarta pada tanggal 29 Mei 2011. Rute sendiri, kata Pendi terdiri dari dua, Etape 1 Jakarta-Sabang-Muntok dan Etape 2 Muntok-Merauke. “Pada tanggal 11 Januari kemarin kami berangkat Dari Muntok ke Banjarmasin, dan dari Banjarmasin pada tanggal 30 Januari saya berangkat ke Kotabaru,” tambahnya menjelaskan rute-rutenya.

 
Apakah tidak takut berlayar dari Banjarmasin ke Kotabaru dengan keadaan gelombang yang tidak bersahabat seperti sekarang ini? Pendi hanya tertawa. “Melaut itu sudah mendarah daging, lagian kalau di laut, tidak selamanya cuaca buruk, pasti ada celah- celah yang bisa dilalui oleh perahu,” sebutnya setengah berfilosofi.

 
Puas berbagi dengan para warga dan pelajar di Kotabaru, para pria pemberani ini akhirnya diantar oleh Wabup Rudy Suryana dan Danlanal Yudi Subiantoro ke sebuah penginapan di Kotabaru untuk beristirahat. Rencananya, jika mesin sudah baik, Pendi dan kawan-kawan akan terus berlayar ke Merauke. “Sekali berlayar pantang kita bersurut,” ujarnya. baca juga disini

Jumat, 03 Februari 2012

Cerita Susai Tenggelamnya Kapal Kanon San di Kotabaru

Lokasi tenggelamnya kapal
Ketika 800 Ton Semen Membeku di Dasar Laut Kotabaru
Nelayan Resah, Air Laut Beraroma Semen

Tenggelamnya kapal KM Kanon San di perairan Kotabaru sekitar 200 meter arah Barat dari Pelabuhan Panjang meresahkan para nelayan. Pasalnya kapal tersebut mengangkut belasan ribu sak semen yang dikhawatirkan bisa mencemari laut.

Yan, Kotabaru

Dari keterangan resmi Wakpolres Kompol Kaswandi Irwan SIK, Kapal Motor Kanon San bermuatan 16.000 sak semen, atau sekira 800 ton semen. Tenggelamnya kapal, membuat semen tersebut basah dan mengeras di dasar laut Kotabaru.

“Wah kalau memang tadi malam itu kapal bermuatan semen sebanyak itu, maka itu bisa menjadi ancaman besar bagi kami para nelayan, bisa saja kan, ikan-ikan disana mati atau pindah tempat,” ujar Be’du nelayan Kotabaru kepada Radar Banjarmasin, Rabu (01/2).

Mendapati keresahan warga itu maka Ketua Komisi 2 DPRD Kotabaru, H Syaiful Bahri segera menghubungi Dinas Lingkungan Hidup Kotabaru. Maka kemudian Kabid Pemulihan Emilia Sulistiawati bersama beberapa stafnya segera menuju pelabuhan untuk mengambil sampel air di lokasi tenggelamnya kapal.

Dengan menggunakan dua buah speed boat rombongan berangkat ke perairan, dimana didalamnya terdapat bangkai kapal KM Kanon San yang tenggelam. Perjalanan ke lokasi dimudahkan dengan adanya tanda yang telah diletakkan Adpel berupa pancangan bendera merah mencolok, juga berfungsi sebagai peringatan kepada kapal-kapal agar jangan melintas di atasnya karena dikhawatirkan akan menabrak tiang kapal Kanon San.

Dan ketika sampai di lokasi, maka jelas tercium bau semen sementara di atas air terlihat gelembung-gelembung minyak mengambang. “Disinilah lokasi kapal yang tenggelam, dan dinas sepertinya sudah bisa mengambil sampel airnya,” ujar Syaiful Bahri.

Sehabis berputar-putar di lokasi dan membuat beberapa liter air laut kedalam jeriken, mereka kembali ke darat. 

“Nanti kami akan bawa dulu sampel air ini ke Lab di Banjarmasin untuk mengetahui seberapa besar tingkat pencemaran akibat tenggelamnya ratusan ton semen dan tentu di dalam kapal itu juga terdapat drum-drum berisi minyak” ujar Emilia kepada Radar Banjarmasin.

Dia juga berjanji akan secepanya memberikan kabar begitu hasil penelitan sudah selesai. Yang jelas, tambahnya, pencemaran itu bisa berbahaya bagi biota di laut, dimana kehidupan ikan-ikan bisa terganggu dan terancam.

Dilain pihak Wakapolres yang dihubungi Radar Banjarmasin via seluler mengatakan akan secepatnya menarik bangkai kapal dari dalam laut bekerjasama dengan Adpel Kotabaru. “Kita juga masih sedang mendalami apakah tenggelamnya kapal akibat kelalaian atau memang kecelakaan terjadi akibat cuaca buruk,” ujarnya. (yn/bin) baca juga disini

Kotabaru, Kapal Kargo Tabrakan dan Tenggelam

Kapal Bermuatan Enam Belas Ribu Sak Semen Tenggelam
Petaka Laut Kotabaru Akhir Januari

Tim Pol Air yang dapat berita
KOTABARU – Selasa (31/01) malam sekitar jam 21.00 para petugas Pol Air di Pelabuhan Panjang geger dengan adanya tanda peringatan bahaya sebanyak dua kali di tengah laut, sekitar 200 meter arah Barat Pelabuhan Panjang Kotabaru . Dari peralatan radio jarak jauh yang mereka buka, maka terdengar kabar kalau di tengah lautan sebuah kapal sedang dalam kondisi bahaya, hampir tenggelam.

Kaur Binop Aiptu H Sumari lantas segara bergegas menugaskan para periwira di Pol Air untuk berangkat ke daerah titik lokasi, dimana peringatan bahaya tadi dikirimkan oleh kapal. Dengan sebuah speed boat, periwira Pol Air, Tim Adpel Kotabaru segera berangkat disusul dengan tim Basarnas Kotabaru dengan menggunakan perahu karet cepat.

Ditengah cuaca gerimis dan gelombang laut yang tinggi, tim gabungan ini berlomba menuju lokasi. Sayang ketika sampai ditujuan, yang didapati hanya kabar kalau kapal yang mengirimkan tanda bahaya tadi sudah tenggelam kedalam laut, dan yang tertinggal mengapung di laut hanya papan nama kapal bertuliskan: KM Kanon San.

Tim tiba di lokasi
Dari jalur radio komunikasi di perahu karet cepat Tim Basarnas, wartawan koran ini yang berkesempatan ikut mendengar bahwa kapal memang sudah tenggelam namun awak kapal semua telah diselamatkan oleh para nelayan Desa Rampan yang ternyata sudah lebih dahulu sampai kelokasi. “Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan kali ini,” ujar sebuah suara dari peralatan radio jarak jauh.

Setelah itu Tim Gabungan segera kembali ke darat karena cuaca sedang tidak bersahabat. Dan sekitar jam 22.00 Wakapolres Kompol Kaswandi Irwan SIK datang ke pelabuhan, dan dia pun segera mengajak Tim yang baru tiba tadi kembali kelautan.

Sehabis meninjau dan berkeliling disekitar lokasi kejadian untuk memastikan bahwa memang tidak ada korban jiwa dalam kecalakaan laut kali ini, maka dia kembali ke pos Pol Air. Disana dia menggelar jumpa pers dan menceritakan kronologis kejadian yang berjasil dihimpun Tim Gabungan baik yang bertugas di laut atau di darat.

Saat kejadian, katanya bercerita, 3 buah kapal kargo masing-masing bernama Taruna Putra 3 dengan 17 ABK, KM Kanon San dengan 13 ABK, dan Permata Abadi dengan 12 BK, sedang berlabuh diperairan dekat Pelabuhan Panjang Kotabaru. Diduga karena ombak yang kencang, arus laut yang kuat maka jangkar kapal Taruna 3 yang berada disebelah kiri kapal Kanon San terseret dan haluannya kemudian menghantam lambung kiri Kanon San.

salah satu kapal yang bersenggolan
Benturan itu mengkibatkan Kanon San mengalami kebocoran, namun arus laut masih saja dengan kuat menyeret kedua kapal ini sehingga kembali membentur kapal Permata Abadi yang berada disebelah kanan kapal Kanon San. Berhubung terjepit akhirnya posisi Kanon San miring dan air laut semakin banyak masu, ditambah dengan adanya muatan semen sebanyak 800 ton (16.000 sak, Red), maka kapal kemudian tenggelam. Dan rencananya akan secepatnya di evakuasi agar tidak mencameri perairan Kotabaru.

Kapten kapal Kanon San, Mose membenarkan keterangan dari Wakapolres tesebut. “Saat itu arus deras dan gelombang tinggi, belum lagi cuaca yang gelap kerena hujan deras, sangat menyulitkan kami dalam mengendalikan kapal. Padahal semen itu rencananya akan kami bawa ke Toli-Toli Sulawasi Barat setelah membelinya di Tarjun,” ujarnya kepada Radar Banjaramasin.

Kesokan harinya Radar Banjarmasin sempat bertemu dengan seorang saksi mata, Adnan (36). Dia yang sore Rabu (01/02) dengan ditemani oleh Ketua Komisi 2 DPRD Kotabaru H Sayiful Bahri bercerita kalau pada saat kejadian dia dan beberapa warga Desa Rampa Lama Kecamatan Pulau Laut Utara, terkejut melihat tanda bahaya di laut, yang biasa mereka yakini sebagai alamat adaanya kecelakaan.

Melihat itu dia pun bergegas pergi kelokasi dengan anaknya menggunakan kapal Balapan. Dan sesampainya di lokasi dia melihat kapal Kanon San sudah hampir tenggelam, dan ketika diperiksa maka di dalam kapal hanya tinggal Kapten Mose. Dia pun lantas mengajak Mose meninggalkan kapal, kerena kapal tidak mungkin bisa diselamatkan.

Adnan saksi, didampingi dewan
“Saya sempat melihat bagaimana besarnya robekan lambung kapal. Air masuk dengan cepat ke dalam kapal, sehingga saya lantas meneriaki Kapten yang terlihat di haluan agar segera melompat saja karena kapal sudah hampir tenggalam, karena memang kapten kapal biasanya akan terus dikapal sampa kapal memang benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan” ujarnya.

Sementara para nelayan lainnya atas saran Syaful Bahri yang pada saat kejadian kebetulan berada di Desa Rampa segera menyusul Adnan. Ditengah lautan kemudian mereka melihat para ABK  Kanon San berenang di lautan berusaha mencapai darat yang kemudian satu persatu dinaikkan nelayan ke kapal balapan, lantas ditampung di rumah-rumah warga. (mr-119)

Nelayan Kotabaru Butuh Modal

Pengering ikan desa Rampa
Pengering Ikan Rampa Butuh Suntikan Modal

KOTOBARU – Warga Desa Rampa Lama Kecamatan Pulau Laut Utara menyampaikan usulan kepada Dinas Kelauatan dan Perikanan Kotabaru tambahan modal agar usaha pengeringan ikan laut mereka bisa meningkat lagi pemasarannya.

Selama ini mereka mengaku sangat kesulitan dalam membangun pasar, karena jumlah ikan yang mereka keringkan belum memenuhi semua kebutuhan pasar. “Lihat, mas, para ibu-ibu yang bekerja sebagai pengering ikan ini hanya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, padahal kalau ada tambahan modal mereka bisa mendapat keuntungan yang lebih,” ujar Adnan (36) warga disana.

Dia menambahkan, bahwa biasanya para ibu rumah tangga memang bekerja sebagai pengering ikan, mulai dari ikan yang kecil sampai ukuran besar seperti ikan tongkol. Permintaan pasar sendiri tidam habis-habisnya karena sifat ikan kering yang tahan lama, sayang, tuturnya, warga seperti musim sekarang ksulitan modal dalam membeli ikan mentah sebagai bahan baku.

Ketua Komisi 2, H Syaiful Bahri, yang mendengar keluhan warga tersebut pada hari Rabu (01/02) segera mendatangi Desa Rampa Lama. Dari dekat dia menyaksikan suasana desa yang penuh dengan para-para mengeringkan ikan. “Memang, ini sudah lama menjadi wacana pemikiran kami, dan saya pribadi akan mendatangi Dinas Kelautan dan Perikanan, untuk mengusulkan ajuan bantuan agar warga terbantukan permodalannya,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Sementara disisi lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru sudah mempublikasikan kepada Radar Banjarmasin tentang adanya bantuan kepada 20 kelompok nelayan sebesar Rp100 juta. Program tersebut berasal dari Dinas Perikanan dan Kelautan RI, yang bertujuan untuk membantu para nelayan miskin di pesisir Kotabaru.

“Jadi saya harap para nelayan memasukkan proposal kepada kami secepatnya, nanti proposal yang masuk tersebut akan kami seleksi, yang mana prioritas segera kami tinjau kelapangan, dana apabila memang layak maka bantuan akan kami berikan tanpa ada potongan sediktpun,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menjelasakan kalau kelompok nelayan miskin dan belum mempunyai usaha menjadi prioritas dalam pemberian bantuan. Hanya memang, pemberian itu nanti berangkat dari data-data dalam proposal yang nelayan ajukan serta bukti-bukit dilapangan. (mr-119)

Lagi, Kapten Kapa Perintis Delta Sembada Hanya Berbelak Tandatangan Dari Kotabaru ke Majene

Penumpang yang terkatung
Kapal Perintis, Keberangkatannya Penuh Tanda Tanya
Terkait Izin Kelaikan Kapal

KOTABARU – Lagi, polemik izin keberangkatan Kapal Perintis Delta Sembada terjadi. Sekitar jam 17.00 Kapten kapal, Usman, menghubungi wartawan Radar Banjarmasin via seluler. “Mas, ini bagaimana? Kapal kami tidak bisa lagi berangkat ke Majene hari ini kerana Adpel belum memberika izin, kasian penumpang kalau terlantar lagi,” ujarnya.

Mendapati hal tersebut wartawan koran ini segera menghubungi Kasubsi Kalikan Kapal, Adpel Kotabaru Capt YK Te'Dang. Sayang dia yang dihubungi via seluler tidak ada balasan.  Padahal permasalahan itu, katanya, berdasarkan izin kelaikan kapal yang perlu diperbaharui.

Sesampainya di Pelabuhan Panjang tempat kapal bersandar, maka disana terlihat para penumpang gelisah. Mereka mengatakan, sangat ingin berlayar ke Majene secepatnya. “Kalau kami lama disini, bagaiman kami bisa makan? Uang dikantong hanya cukup buat transport,” ujar Iwan, salah satu penumpang.

Sementara, Usman mengatakan kalau Adpel lagi-lagi memberikan surat pernyataan yang harus dia tandatangani, dimana isinya adalah kalau terjadi hal yang tidak diinginkan ketika berlayar maka itu menjadi tanggung jawab dari Kapten Kapal. Sedangkan, katanya, sesuai dengan peraturan yang bertanggung jawab dalam pelayaran adalah nahkoda, tetapi yang bertanggung jawab dalam memberikan izin berlayar adalah Adpel.

Dia juga menuturkan kalau sudah membawa masalah itu kepada Kepala Adpel Banjaramsin, Barnabas MMT. “Kapal Perintis, kan, adalah program dari Direktorat Jendral Perhubungan untuk mefasilitasi transportasi warga kepulauan lewat jalur laut. Spertinya Adpel di Kotabaru belum terlalu mengerti lagi tentang areal perairan disana,” ujarnya menirukan ucapan Bernabas.

Seperti diketahui sebelumnya, Kapal Delta Sembada belum mendapatkan izin dari Adpel karena dianggap belum diuji kelaikannya. Dam beberapa minggu sebelumnya, Perira Jaga Adpel, Taufik Rahman mengatakan, kalau kapal Perintis bisa saja berlayar, dengan catatan kapten kapal harus menandatangani surat pernyataan, bahwa kalau terjadi apa-apa maka itu adalah tanggung jawab kapten. “Sedangkan izin berlayar yang resmi baru akan diberikan kalau sudah di lakukan pemeriksaan oleh Tim Adpel nanti,” ujarnya.

Namun sampai sekarang Usman, mangaku belum ada tim dari Adpel yang turun menguji kalaikan kapal. Dia pun akhirnya bertanya-tanya, apa sebenarnya keinginan dari Adpel Kotabaru. Kalau may kasih izin maka berikan, tambahnya, tapi kalau memang tidak boleh berlayar maka juga berika keputusan yang tegas, sehingga dia tidak terkatung-katung.

“Yang kasian kan, kami ini. Mau berangkat salah, tidak berangkat juga salah. Nanti juga, masalah ini akan saya bawa ke Pusat langsung. Kebetulan ada teman di Jakarya yang berjanji akan menghubungi Direktorat Jendral Perhubungan,” ujarnya di akhir pembicaraan dengan Radar.
 
Dan pada saat kesokan harinya, Radar Banjamasin kembali ke Pelabuhan untuk  melihat apakah kapal sudah berangkat atau belum, ternyata kapal sudah berangkat. Ketika dihubugi ponselnya tidak berada dalam arena jaringan. "Dia sudah berangkat, mas, hanya berbekal tandantangan surat pernyataan seperti ketika ia berangkat ke Marabatuan kemarin. Ini sudah yang ke 4 kalinya, dan jujur saya ga habis pikir apa maunya si Adpel," ujar Saparuddin ZM, Direktur PT Lautan Kumala, pemilik kapal. (mr-119)

Antara Nelayan Kotabaru Dengan Dishub

Kapal Nelayan di Kotabaru, Hilir Muara
Dishub Akali Nelayan?

KOTABARU – Warga nelayan Desa Hilir Muara Kotabaru mengeluh akan kinerja Dinas Perhubungan kala mengukur berat kapal. Kata Aco, selama ini petugas dari Dinas mengukur panjang kapal dari ujung haluan ke ujung buritan, padahal kalau di Tanah Bumbu, yang diukur itu hanya bagian lunas saja.

“Kalau panjang kapak diukur mulai ujung haluan sampai ujung buritan, itu namanya pencurian panjang. Karena yang diberi muatan, kan, hanya bagian rongga kapal dan itu panjangnya tidak lebih dari panjang lunas kapal,”ujarnya kepada Radar Banjarmasin beberapa minggu yang lewat.

Apabila pengukuran yang dilakukan seperti itu, maka menurut mereka itu akan mengakibatkan jumlah ton kapal meningkat lebih tinggi dari ukuran sebenarnya. Kalau hanya lunas yang diukur, tambah mereka, berat kapal paling hanya 7 ton, tapi kalau memakai cara mereka (petugas Dinas Perhubungan, Red), maka berat kapal bisa mencapai 9 ton.

Sedangkan dalam peraturan pemerintah disebutkan bahwa untuk kapal di atas 7 ton, membuat izinnya menjadi wewenang provinsi, sedangkan di bawah 7 ton itu menjadi wewenang kabupaten. Jadi, kata mereka, kapal yang beratnya mencapai 9 ton (memakai cara pengukuran Dinas Perhubungan, Red) harus mengurus izin di tingkat provinsi, dan itu, katanya, lebih menyulitkan prosedurnya.

Dari itu para nelayan, dimana melaut sendiri merupakan salah satu pekerjaan dominan di Kotabaru, mengharapkan agar Dinas melakukan pengukuran seperti yang dilakukan di Tanah Bumbu, karan pengukuran demikan tidak membuat berat kapal bernilai lebih tinggi daripada seharusnya.

Dan ketika hal tersebut dikonfirmasi ke Kepala Dinas Perhubungan, M Riduan R S Sos mengatakan, Selasa (31/01), kalau sebenarnya pengukuran yang dinas lakukan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hanya saja, warga nelayan kebanyakan tidak mengerti bahwa ketika kapal berbobot di atas 7 ton maka itu adalah wewenang Adpel.

“Pengukuran sudah tepat, hanya memang warga selama ini ingin pengukuran itu dilakukan oleh dinas karena dinas tidak mengenakan biaya yang tinggi, dan sementara kapal-kapal mereka rata-rata beradar di atas 7 ton,” ujarnya.

Dia juga menambahkan kalau pemasalahan ini sebenarnya timbul akibat dari tenggelamanya kapal KM Martasiah bebeberapa bulan lewat, yang menewaskan puluhan penumpangnya. Karena itu,  katanya, pemerintah berupaya menertibkan kapal-kapal di Kotabaru dengan memperbaharui izin melaut.

Sayangnya, banyak nelayan yang dianggapnya masih saja berharap surat-surat administrasi kapal itu diurus oleh Dinas Perhubungan, karena memang selama ini Dinas sendiri tidak pelik dalam prosedur perizinan, cukup keterangan tentang kondisi kapal yang diktetahui oleh Kepala Desa setempat. Sedangkan dia, mana berani memberikan izin administrasi kepada kapal-kapal yang berbobot di atas 7 ton. (mr-119)