Radar Banjarmasin, Grup Jawa Pos, adalah salah satu koran harian yang mengabarkan berbagai berita dari penjuru Kalsel, dan untuk blog ini dikhususkan bagi berita-berita seputaran Kotabaru.
Kategori Berita Kotabaru
- Berita dalam Cerita (Feature) (7)
- Ekonomi dan Bisnis (11)
- Hukum dan Kriminal (11)
- Kelautan dan Perikanan (23)
- Kesehatan (3)
- Pemkab Kotabaru (24)
- Pendidikan (11)
- Pertanian dan Perkebunan (5)
- Suara Saijaan (49)
- Tahukah Anda (27)
Minggu, 22 Januari 2012
Nelyan Kotabaru Ditawarkan Bantuan Ratusan Juta Dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru
NELAYAN, MASUKKAN PROPOSAL SERATUS JUTA MENANTI
KOTABARU – Nelayan Kotabaru boleh bergembira tahun ini, pasalnya Kepala
Dinas Kelautan dan Perikanan, Ir TaliB MAP, mengatakan kepada Radar
Banjarmasin (16/01) bahwa tahun ini pihaknya akan dikucurkan dana
sebesar Rp2 milyar dari Kementerian Perikanan dan Kelautan untuk
pengembangan 20 kelompok nelayan di Kotabaru lewat program P2HP
(Pengolahan Pengembangan Hasil-Hasil Perikanan).
Sehingga nanti dana sebesar itu akan diberikan masing-masing Rp100 juta
perkelompok nelayan yang mengembangkan usaha penangkapan ikan. Adapun
kelompok yang akan diberikan nanti, melihat hasil dari proposal mereka
dan keadaan yang ada dilapangan. “Jadi nanti kita akan lihat semua
proposal permohonan nelayan yang masuk, dan juga akan ditinjau
dilapangan, setelah itu akan kita buat peringkat prioritas,” ujarnya.
Hal itu dilakukan, katanya, karena potensi kelautan Kotabaru yang
sangat besar, hingga program-program yang sifatnya untuk meningkatkan
pendapatan nelayan harus terus dilakukan, demi terelisasinya visi Dinas
Kelautan dan Perikanan Kotabaru yakni mewujudkan daerah Kotabaru sebagai
penghasil PAD (Pendapatan Asli Daerah) terbesar di Kalimantan dalam
hal hasil perikanan dan kelautan.
Dana itu nanti, tambahnya,
akan diberikan kepada kelompok nelayan tanpa dipotong biaya apapun, jadi
kelompok murni akan menerima dana sebesar Rp100 juta, bahkan materai
untuk pencairan dana tidak akan dibebankan kepada kelompok tapi itu akan
disediakan oleh dinas. “Dan kalau ada pihak kami yang memungut dana
tambahan kepada kelompok, silakan lapor langsung kepada saya,” tegasnya.
Jadi dia sangat menyarankan agar kelompok nelayan Kotabaru khususnya
yang berusaha dalam bidang penangkapan agar bisa mengajukan permohonan
bantuan usaha, dengan cara mengusulkannya lewat proposal, sesegera
mungkin. Karena sebagai putra daerah Kotbaru, dia telah bersaha maksimal
dalam memberikan peyanan kepada nelayan Kotabaru, dan untuk dana
bantuan kali ini Kabaputen Kotabaru menerima dana paling besar dibanding
daerah-daerah lain di Kalsel.
Di akhir wawancara dia berpesan
kepada masyarakat nelayan Kotabaru agar jangan segan untuk berdialog
dengan pihak dinas terkait segala macam problematika terkait masalah
modal. Pihak dinas, ujarnya, akan berusaha membantu mengembangkan taraf
pendapatan para nelayan, dengan cara memberikan rekomendasi kepada bank
bagi warga yang ingin meminjam dana di bank, sehingga dengan adanya
rekomendasi dari dinas biasanya bank akan mau memberikan pinjaman. Sebab
dia juga mengakui bahwa bantuan-bantuan pemerintah tentu belum bisa
mencukupi semua tuntutan dari nelayan Kotabaru. (mr-119)
Pemancing Kotabaru Tewas Tenggelam
GARA-GARA KAKAP NYAWA MELAYANG
KOTABARU – Siang Kamis (19/01), sekitar jam 11.00, Pelabuhan Panjang
geger oleh kerumunan dan jerit histeris warga. Pelabuhan yang tidak
terlalu besar itu tumpah ruah olah masa, sementara kapal-kapal yang
bersandar di pelabuhan tampak oleng karena dipadati warga yang
menyaksikan detik-detik mayat Erly Effendy (35), diangkat dari dasar
laut.
Berdasarkan keterangan ayahnya, Yansah, Erly yang warga
RT 12 Jl Antasan Kuin Kecamatan Pulau Laut Utara dan sehari-hari bekerja
sebagai tukang parkir di Warung Selma, tenggelam di laut bawah
Pelabuhan Panjang sekitar jam 01.00 malam (19/01). Dimana saat itu,
katanya, Erly sedang memancing ikan bersama temannya, Gusti Rakhmadi.
Saat sedang asik-asiknya memancing, tiba-tiba umpan Erly dipatuk ikan.
Ikan itu, cerita ayah Erly, sangat kuat menarik nilon sehingga Erly
memutuskan untuk menyelaminya. Dia pun lantas membuka pakaiannya, hingga
tinggal bercelana dalam saja, turun ke dinginnya laut, sementara Gusti
memegang nilon dari atas jembatan.
Tidak lama menyelam, Erly
menyembul kepermukaan, sambil tangannya menggenggam ekor ikan kakap yang
memang sangat besar. Saat itu dia, katanya, sempat berujar gembira
karena kebehasilannya. “Nah, liat aku dapat iwak ganal,” ujar ayahnya
menirukan ucapan anaknya.
Namun ikan itu ternyata sangat kuat,
dan berhasil melepaskan diri. Kira-kira penasaran ingin mendapatkan ikan
kakap besar, dia pun lantas kembali menyelam. Nah, saat menyelam yang
kedua kalinya itu, Erly yang sudah pisah dengan istrinya ini dan
mempunyai seorang anak umur 3 tahun, tidak muncul-muncul lagi.
“Aku sudah melarangnya memancing, tapi dia keras kepala. Katanya, dia
bermimpi ada melihat sumur yang banyak ikannya, dan itu dia percaya
sebagai tanda akan dapat ikan besar kalau memancing,” ujar ayahnya lagi
dengan sedih.
Sementara dari keterangan anggota Tim Basarnas,
Adi, korban diduga ada terantuk tiang kayu ulin pelabuhan, karena pada
malam itu arus laut sangat kencang. Akibatnya, korban yang diakui oleh
keluarganya pandai berenang ini, diperkirakan pingsan setlah terantuk
dan kehabisan oksigen di dasar laut. Itu didukung dari keterangan
nelayan tradisional, Usman, yang pertama kali melihat mayat, mengatakan
kalau posisi mayat dalam keadaan tertelungkup di dasar laut.
Kasat Pol Air Akp Rokhmadi saat ditemui Radar Banjarmasin membenarkan
cerita itu, dan menambahkan kalau Penemuan mayat Erly, berhasil
dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari Tim Basarnas Kotbaru, Pol
Air dan 6 orang penyelam tradisional Kotabaru. Penemuan itu sendiri,
diawali dengan kerja keras tim baik di dalam laut dengan menggunakan
perlatan selam, juga dengan menyisir daerah laut dalam radius hingga 500
meter dari titik jatuh korban, mulai dari puku 01.00 malam (19/01)
sampai keesokan harinya ketika mayat telah ditemukan.
Para
pemancing yang sore sehabis kejadian ditemui Radar Banjarmasin, mengakui
kebiasaan menyelam ketika umpan dimakan ikan kakap besar sering
dilakukan mereka yang jago berenang. Sebab, umumnya nilon yang digunakan
tidak terlalu kuat, hingga bila ditarik secara paksa ada kemungkinan
putus, juga di bawah jembatan banyak sekali kayu, dan sangat menyusahkan
untuk menarik ikan secara manual. “Kalau dapat ikan besar, kalau tidak
diselami rasanya gimana gitu, penasaran, mas,” ujar Iwan seorang
pemancing sambil melemparkan mata kailnya ketengah laut.
Belum
lagi dengan kenyataan bahwa mendapatkan ikan besar bisa membuat isi
kantong pemancing bertambah. Dipasaran sendiri, harga ikan kakap satu
kilonya Rp25 ribu. Dan ikan kakap yang sempat dipegang ekornya oleh
Erly, diperkirakan berbobot 7 kilo ke atas. Maka, pemancing di pelabuhan
Kotabaru pun merasa bahwa meninggalnya korban adalah takdir, sedang
mereka tetap harus melanjutkan pekerjaan harian itu, baik hanya sekedar
hobi atau mencari tambahan nafkah buat keluarga. (mr-119)
Sabtu, 21 Januari 2012
51 Ton Pisang Sulawesi Serbu Kotabaru
![]() |
| Pedagang Sulawasi bongkar pisang |
SEMINGGU 51 TON PISANG DARI SULAWESI KE KOTABARU
KOTABARU – Sedikitknya dalam seminggu 51 ton pisang dari Polewali
Mamasa Sulawesi Barat masuk ke pasar harian Kotabaru. Itu dikatakan oleh
Jamal, seorang penujual pisang asal Sulawesi, beberapa hari yang lewat
kepada Radar Banjarmasin.
Dia mengaku kalau dalam seminggu bisa 3 kali membawa pisang, dimana sekali membawa kapalnya bisa memuat pisang sebanyak 17 ton, dan itu dijual kepada pedagang pisang di Kotabaru.
Selanjutnya dia menceritakan kalau dalam 17 ton dia menghabiskan dana
sekitar 30 juta rupiah, mulai dari membeli pisang dari para petani di
Sulawasi hingga ongkos perjalanan sampai ke pelabuhan Kotabaru.
Dan ketika sampai di pelabuhan maka itu menjadi pekerjaan pembeli yang
sudah menanti kapalnya merapat, mengangkat pisang dari pelabuhan ke
dalam pasar. Saat semua itu selesai, dia mengaku bisa mengantongi
keuntungan sebesar Rp10 juta.
Sedangkan ketika Radar
Banjarmasin menanyakan hal itu kepada para pedagang pisang di pasar,
mereka memang biasa membeli pisang dari Sulawasi tersebut, karena untuk
produksi lokal petani Kotabaru belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.
Praktis, untuk memenuhi kebutuahan pasar, mereka membeli dari luar
daerah. Dan disamping itu, mereka juga menambahkan alasan dalam memilih
buah pisang dari Sulawasi salah satunya karena harganya yang bersaing
dengan pisang lokal.
“Terkadang ulun lebih memilih pisang dari
Sulawasi karena harganya yang murah. Beberapa hari yang lewat, ulun
membeli satu tandan pisang dari Gedambaan itu Rp8 ribu, sedangkan yang
dari Sulawasi hanya Rp7 ribu,” ujar Hamdah seorang pedagang pisang di
pasar Kotabaru.
Menurut para pekerja di pelabuhan yang sempat
ditemui Radar, didapat keterangan kalau selama ini masuknya buah-buah
dari luar daerah di Kotabaru lebih mudah dan murah sebab perairan
Kotabaru yang langsung bisa dicapai dengan efisisen baik dari daerah
Jawa maupun Sulawasi. Kata mereka, hanya dengan kapal kecil para penjual
dari Sulawasi dan Jawa sudah bisa membawa barang mereka masuk ke
Kotabaru.
Bandingkan, tambah mereka, kalau para petani buah
dari dareah Pulau Laut Barat. Mereka terkadang seharian baru sampai ke
Kotabaru sebab keadaan jalan yang kurang memadai, sedangkan para
pedagang dari Sulawasi hanya memakan waktu sehari semalam berlayar untuk
mencapai pelabuhan pasar Kotabaru. Sedangkan seperti diketahui jumlah
produksi di Sulawasi memang lebih banyak daripada Kotabaru. (mr-119)
Durian Kotabaru Prosuksinya Berkurang
PRODUKSI DURIAN KOTABARU BERKURANG
KOTABARU – Tahukah anda kalau salah satu para penjual durian di
Kotabaru tahun ini mengeluh akan produksi durian lokal. Pasalnya, kata
mereka produksi durian tahun ini menurun dibanding tahun kemarin,
sehingga mau tidak mau penjual durian di pasar menaikkan harga.
Kata sebagian penjual penyebab dari berkurangnya durian adalah karena buah durian di kebun petani banyak
diserang tupai. “Sekarang durian banyak yang diserang tupai, makanya
para petani durian tidak terlalu banyak mempunyai buah,” ujar Wati
seorang penujual durian di Kotabaru.
Dia sendiri selama ini
mengaku membeli durian dari Kecamatan Tanjung Batu, karena pasokan buah
di daerah seputaran Kecamatan Pulau Laut Utara Kotabaru sangat kurang,
dan juga kualiatas buahnya tidak sebaik dengan kualitas buah di
Kecamatan Tanjung Batu.
Dan itu juga diakui oleh para pembeli
durian yang dijumpai Radar Banjarmasin. Mereka mengatakan kalau
penjualan durian tahun ini tidak semarak tahun kemarin. “Kalau tahun
kemarin, mas, para penjual durian di jalan daerah Desa Selino banyak di
pinggir jalan, mereka manjual buah dengan cara membuat pondok-pondok,
dan saking banyaknya penjual buah maka kita seperti masuk dalam pasar.
Sekarang penjualnya sedikit, hanya satu dua yang kita jumpai di pinggir
jalan,” ujar Saripuddin warga Pulau Laut Barat.
Sedangkan
ketika Radar Banjarmasin mengujungai para pekebun di Kotabaru yang
mempunyai pohon durian, mengatakan kalau kurangnya durian tahu ini
memang disebabkan dari serangan tupai. Di satu sisi, menangkal serangan
tupai ini sangat sulit, tidak semudah kala pohon yang diserang tupai
adalah pohon kelapa. “Susah mas, kalau pohon kelapa, kan, kita bisa
melingkarkan seng disekeliling batang. Nah, kalau pohon durian batangnya
sangat besar, belum lagi ranting-rantingnya yang bercabang kemana-mana,
jadi walaupun dipasangi seng akan sia-sia saja,” ujar Samsul.
Namun lain lagi dengan keterangan Siti Julaikha. Dia yang mempunyai
pohon durian di Desa Sekandis Kecamatan Pamukan Selatan mengatakan kalau
berkurangnya buah durian berkurang karena gerhana bulan yang terjadi
pada bulan Desember 2011 tahun kemarin. Katanya, karena gerhana tersebut
maka bunga-bunga durian, dimana nanti akan menjadi buah, habis
berguguran. (mr-119)
STIKIP Paris Barantai Kotabaru Ringankan Biaya
STIKIP BERI KELONGGARAN PADA MAHASISWA
KOTABARU – Dalam peraturan Dikti, disebutkan bahwa bagi universitas
swasta pembayaran iuran mahasiswa dibawah Rp1,5 juta akan membuat kampus
mengalama perkembangan finansial yang kurang sehat, namun STIKIP Paris
Barantai berani mengabaikan hal tersebut dengan memberikan beban iuran
satu semester unutk mahasiswa sebesar Rp1,25 juta.
Itu dikatakan oleh Ketua Pembantu
2 STIKP Paris Barantai Kotabaru, Rony Safrtiansyah, kepada Radar
Banjarmasin beberapa hari yang lewat dikantornya. Dalam pertemuan itu
dia mengaku bahwa meski memang kalau dalam menetapkan peraturan
pembayaran mahasiswa dibawah standar akan membuat perkembangan kampus
menjadi lambat, namun itu ditetapkan dengan menimbang segi perokonomian
orang tua mahasiswa sendiri yang kebanyakan bukan dari kalangan berada.
Meski sudah demikian, dari wawancara Radar Barnjarmasin masih banyak
mahasiswa STIKIP yang menunggak pembayaran, bahkan ada yang sampai satu
semester. Sebut saja Randi, mahasiswa STIKIP jurusan Penjaskesrek,
kepada Radar dia mengatakan kalau sudah satu semester nunggak
pembayaran. “Ya, mau gimana, orang tua saya saja kesulitan makan di
rumah, apalagi membayar uang semester,” ujarnya masgul.
Para
mahasiswa lainnya yang menunggak juga mempunyai alsan sama. Ada memang
sebagian dari mereka berusaha memenuhi kewajiban tersebut dengan cara
bekerja sampingan, sehingga praktis mereka kuliah sambil kerja. Sayang,
katanya, uang bayaran dari tempat bekerja hanya cukup menutupi kebutuhan
sehari-hari.
Meyikapi hal tesebut, Rony mengatakan kalau pihak
kampus sendiri memberikan kelonggaran keapada mahasiswa besangkutan
dengan cara melaporkan permasalahan kepada pihak kampus, dan kalau
memang alasan yang diberikan memang dianggap patut ditolerir, biasanya
pihak kampus akan memberikan tenggat waktu sampai mahasiswa bisa
melunasi tunggakan.
Maka dari itu pihak kampus sendiri
menyadari kalau menerapkan aturan pembayaran seperti yang dikatakan
Dikti, rupanya sulit diterapkan di kampus. Sedangkan menerapkan biaya
dibawah standar saja masih banyak mahasiswa yang nuggak apalagi kalau
dinaikkan dari tarif yang sekarang telah diberlakukan. Dan akibatnya,
kata Rony, pembangunan kampus dalam hal sarana prasarana agak terlambat
dari waktu yang diharapkan. (mr-119)
Anak Pelajar Kotabaru Hampir Bunuh Bayi
ANAK SEKOLAH MELAHIRKAN, NYARIS BUNUH BAYI
KOTABARU
– Salah satu instansi sekolah di Pulau Laut Utara Kotabaru, tadi pagi,
Selasa (10/01) dibuat geger dengan adanya laporan bahwa salah satu
sisiwinya hamil diluar nikah, dan diduga hampir membunuh bayinya sendiri
karena melahirkan di WC dan meninggalkannya begitu saja.
Mendapati kabar diluar dugaan tersebut, pihak sekolah pun langsung
menuju lokasi kejadian di Jl Berangas Baharu Utara Kecamatan Pulau Laut
Utara. Disana pihak sekolah akhirnya mendapat kesaksian bahwa memang
salah satu siswinya telah melahirkan di WC tempat kosnya, hari Senin
(09/01) sekitar pukul 11.00 siang.
Radar Banjarmasin yang saat
itu juga berada di lokasi kejadian sempat berbincang-bincang dengan
saksi mata, sebut saja Aco (bukan nama sebenarnya). Dia mengatakan kalau
sepulang kerja dari Pom Bensin dekat rumahnya, dia berencana
membersihkan sepeda motor. Saat dia hendak mengambil selang di belakang
dapur salah satu tetangga kosnya, dia mendengar suara tangisan bayi.
“Suara tangisan bayi itu tedengar terus mas, saya takut sekali,
sedangkan tetangga saya (Ibu dari bayi, Red) sedang tidak ada, jadi saya
sendiri waktu itu. Padahal setau saya, kami 3 pintu kos-kosan tidak ada
yang punya bayi. Setelah lama, saya coba berani, membuka seng dapur
tempat suara tangisan kedengar. Tiba-tiba, mas, saya kaget,
sampai-sampai mau copot jantung saya, masalahnya dari lubang seng dapur
yang saya buka, keliatan di WC bayi kecil berlumuran darah,” ujarnya
memberikan kesaksian.
Tidak mampu lama-lama menyaksikkan
pemandangan bayi tergolek dengan lumuran darah, dia pun segera berteriak
secara spontan, tolong…tolong, katanya. Karena teriakannya salah
seorang warga akhirnya datang, dan bergegas membawa bayi ke RSUD (Rumah
Sakit Umum Kotabaru). Dan ketika Radar Banjaramasin mencoba
mengkonfirmasi pihak rumah sakit, maka ditemui disana bayi masih dalam
perawatan medis, sedang menurut keterangan dokter, kondisi bayi dalam
keadaan baik.
Sedangkan ketika Radar Banjarmasin mencoba
mencari keterangan ke pihak kepolisian Resort Kotabaru bagian Reskrim,
maka petugas disana tidak bisa memberikan komentar dulu, karena kasus
sedang dalam penyidikan. Sementara Ibu dari bayi masih dalam perawatan
intensif di Rumah Sakit Kemala Polres Kotabaru, dan belum diperbolehkan
untuk ditemui.
Dengan adanya kenyataan tersebut, pihak sekolah
pun tidak bisa berbuat banyak selain dari memberikan surat pemberhentian
kepada siswinya itu. Ketika ditanya apakah ini sering terjadi, pihak
sekolah menjawab bahwa jarang di sekolahnya kasus seperti ini terjadi.
“Kami sudah berusaha maksimal dalam mendidik anak dan memberikan
wejangan. Ya anggaplah kali ini kami kecolongan, karena tidak semua buah
yang kita beli di pasar itu bagus, bisa ada saja salah satu yang
berulat,” ujar salah satu guru yang enggan namanya disebutkan.
Lebih lanjut, dia mengharapkan agar pihak orang tua lebih ketat lagi
mengawasi pergaulan anak-anaknya. Karena, katanya, zaman sekarang ini
sangat canggih, informasi bisa didapatkan dengan mudah, bahkan
situs-situs porno dengan mudah diakses oleh anak-anak sekolah lewat
media handhphone.
Memang, nyatanya, pihak pemerintah sudah
menutup sebagian situs-situs amoral tersebut, hanya sayang masih banyak
alagi alamat-alamat di internet yang dengan mudah di akses kala remaja
ingin melihat tayangan-tayangan asusila itu. Jadi wajar, kalau generasi
sekarang sangat rentan dengan kasus-kasus seperti hamil diluar nikah.
Belum lagi, berbicara narkoba, ujarnya, kalau sudah masalah itu maka
sangat sulit mendidik anak, sebab saraf-saraf di kepalanya mengalami
kerusakan sehingga berdampak pada terganggunya perkembangan mental anak
didik itu sendiri. “Jadi, memang pada dasarnya tanggungjawab generasi
muda bukan hanya ada pada pihak sekolah saja, tapi juga pihak pemerintah
dan orang tua,” tegasnya menutup pembicaraan. (mr-119)
Langganan:
Postingan (Atom)

